AS Kantongi Rp160 Triliun dari Kesepakatan Saham TikTok

17 Maret 2026

4
Min Read

Washington D.C. – Sebuah kesepakatan besar terkait restrukturisasi kepemilikan platform media sosial populer, TikTok, di Amerika Serikat dilaporkan telah mendatangkan keuntungan finansial signifikan bagi pemerintah AS. Perkiraan menunjukkan bahwa pemerintahan Donald Trump saat itu berpotensi meraup komisi senilai USD 10 miliar, atau setara dengan Rp160 triliun, dari transaksi tersebut.

Jumlah fantastis ini kabarnya berasal dari para investor baru yang menyuntikkan modal untuk mengakuisisi mayoritas saham TikTok di wilayah Amerika Serikat. Di antara entitas bisnis yang turut ambil bagian dalam investasi ini adalah raksasa teknologi Oracle dan firma investasi terkemuka, Silver Lake. Laporan ini mengemuka dari publikasi terpercaya seperti The Wall Street Journal dan The New York Times.

Lebih lanjut, data yang terungkap menyebutkan bahwa sebagian dari komisi tersebut, tepatnya USD 2,5 miliar (sekitar Rp40 triliun), telah disetorkan ke Departemen Keuangan AS pada tanggal 22 Januari, bertepatan dengan penutupan kesepakatan. Sisa pembayaran diperkirakan akan dicicil secara bertahap dalam beberapa waktu mendatang, menambah pundi-pundi kas negara AS.

Peran Trump dan Komisi yang Menggiurkan

Sebelumnya, pada bulan September, Presiden AS saat itu, Donald Trump, secara terbuka menyatakan optimismenya mengenai potensi keuntungan besar yang akan diterima pemerintah AS. Ia menekankan bahwa peran AS sebagai mediator dalam negosiasi kesepakatan TikTok menjadi kunci utama atas imbalan finansial tersebut. Pernyataan ini pernah dilansir oleh The Verge dan dikutip oleh detikINET pada 16 Maret 2026.

Jika angka perkiraan tersebut terbukti akurat, maka komisi yang diterima pemerintah AS akan melampaui 70% dari total nilai kesepakatan pengambilalihan mayoritas saham TikTok oleh kelompok investor. Nilai keseluruhan transaksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD 14 miliar (sekitar Rp224 triliun), yang menunjukkan besarnya persentase komisi yang dinegosiasikan.

Langkah pemerintah AS dalam memediasi dan mendapatkan komisi dari transaksi bisnis swasta ini menjadi sorotan. Fenomena ini dilihat sebagai pola keterlibatan pemerintah yang semakin intensif dalam sektor korporat, khususnya di bidang teknologi dan industri strategis. Pemerintahan Trump sebelumnya memang kerap mengambil peran langsung dalam berbagai transaksi bisnis penting.

Contoh Keterlibatan Pemerintah Sebelumnya

Keterlibatan pemerintah AS dalam transaksi bisnis swasta tidak hanya sebatas kasus TikTok. Ada beberapa preseden sebelumnya yang menunjukkan pola serupa. Pemerintahan Trump dilaporkan pernah mengambil peran dalam kepemilikan saham di perusahaan teknologi besar.

Salah satu contohnya adalah kepemilikan saham sekitar 10% di perusahaan semikonduktor terkemuka, Intel. Selain itu, pemerintah AS juga dikabarkan mengambil posisi strategis dengan mendapatkan saham “golden share” di perusahaan baja U.S. Steel. Kebijakan lain yang juga menarik perhatian adalah penetapan komisi sebesar 20% dari setiap penjualan chip ke Tiongkok yang dilakukan oleh perusahaan Nvidia.

Langkah-langkah ini mengindikasikan adanya dorongan dari pemerintah AS untuk tidak hanya mengatur, tetapi juga mendapatkan keuntungan finansial langsung dari pergerakan bisnis yang melibatkan perusahaan-perusahaan strategis atau memiliki dampak geopolitik.

Koneksi dengan Tokoh Kunci dan Misteri Detail

Kesepakatan restrukturisasi TikTok ini juga menjadi lebih menarik karena adanya keterkaitan dengan Larry Ellison, seorang tokoh yang dikenal dekat dengan Donald Trump. Ellison bukan hanya seorang pendukung setia, tetapi juga merupakan salah satu penggalang dana utama bagi Trump. Posisi Ellison sebagai salah satu pendiri sekaligus Chief Technology Officer (CTO) di Oracle, perusahaan yang menjadi investor utama dalam restrukturisasi TikTok, menambah dimensi menarik pada seluruh transaksi ini.

Hubungan dekat antara tokoh politik dan eksekutif perusahaan besar seperti ini sering kali memicu pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan atau pengaruh dalam pengambilan keputusan bisnis. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada publikasi resmi yang merinci secara lengkap struktur pembayaran komisi tersebut atau dasar hukum yang mendasarinya dari pihak pemerintah AS maupun para investor yang terlibat.

Meskipun demikian, laporan dari media-media terkemuka seperti The Wall Street Journal dan The New York Times memberikan gambaran awal yang cukup jelas mengenai skala finansial dari kesepakatan ini. Angka USD 10 miliar sebagai komisi menunjukkan betapa besarnya nilai ekonomi yang diperebutkan dalam ranah teknologi global, serta peran strategis yang dimainkan oleh pemerintah dalam mengarahkan arus investasi dan kepemilikan perusahaan.

Peristiwa ini juga menyoroti kompleksitas hubungan antara bisnis, teknologi, dan kebijakan pemerintah di era digital. Transparansi mengenai detail kesepakatan dan dasar hukum komisi tersebut tentu akan menjadi perhatian publik di masa mendatang, terutama mengingat besarnya nilai finansial yang terlibat dan potensi dampaknya terhadap lanskap teknologi global.

Tinggalkan komentar


Related Post