AI Generatif: Ancaman atau Peluang bagi Seniman Kreatif?

14 Maret 2026

6
Min Read

Di era digital yang serba cepat, kecerdasan buatan (AI) generatif, khususnya yang mampu menciptakan video, kerap digadang-gadang sebagai potensi pengganti peran sutradara dan aktor. Namun, pandangan ini justru dibantah oleh sutradara ternama Indonesia, Angga Dwimas Sasongko. Menurutnya, konten yang dihasilkan oleh AI belum bisa dikategorikan sebagai karya seni.

"Saya tidak merasa AI akan menjadi solusi untuk penciptaan seni. Alasannya, AI tidak memiliki jiwa, terlalu sempurna," ujar Angga dalam sebuah lokakarya di Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa keindahan dan nilai sebuah karya seni seringkali terletak pada ketidaksempurnaan yang disengaja atau keunikan yang tak terduga, sebuah elemen yang sulit ditiru oleh mesin.

Meskipun demikian, Angga tidak sepenuhnya menutup diri terhadap perkembangan teknologi AI. Ia justru melihat AI sebagai alat yang sangat membantu dalam meningkatkan produktivitas kerja sehari-hari. Baginya, AI dapat menjadi mitra dalam merumuskan dan mengartikulasikan konsep-konsep kreatif.

AI sebagai Alat Pendukung Produktivitas

Angga Dwimas Sasongko, yang dikenal sebagai sutradara di balik film populer seperti ‘Filosofi Kopi’, mengakui bahwa teknologi AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas kerjanya. Ia menekankan pentingnya pengguna untuk tetap memegang kendali dan berpikir lebih cerdas daripada teknologi yang mereka gunakan.

"AI itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, asalkan penggunanya tetap lebih pintar dari teknologi yang dipakai," ungkap Angga. Pernyataan ini menegaskan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai asisten, bukan pengganti kapasitas intelektual manusia.

Dalam praktiknya, Angga sering memanfaatkan fitur canggih pada perangkat seperti Xiaomi Pad 8 Pro. Ia menggunakan mode split screen untuk membuka peramban web sekaligus aplikasi chatbot AI. Kombinasi ini memudahkannya dalam melakukan riset mendalam dan memproses informasi secara efisien.

"Ini salah satu cara bagaimana saya bisa cepat sekali melihat dan memproses informasi. Terkadang, orang memanfaatkan fitur ini untuk melihat dua hal yang berbeda secara bersamaan," jelas Angga. Penggunaan teknologi secara optimal seperti ini memungkinkan alur kerja yang lebih lancar dan produktif.

Lebih jauh, Angga mendeskripsikan pengalamannya menggunakan AI sebagai sebuah "dialektika". Dalam proses ini, ia melibatkan tiga elemen: AI sebagai asistennya, informasi yang ia gali dari berbagai sumber, dan yang terpenting, pemikirannya sendiri. Pendekatan ini memungkinkan ia untuk mengeksplorasi ide dari berbagai sudut pandang, membandingkan, dan mensintesiskan informasi menjadi sebuah gagasan yang matang.

"Kalau saya memakai ini untuk dialektika, jadi ada tiga pihak yang berdialektika yaitu AI saya, informasi yang saya gali, sama diri saya sendiri," pungkasnya. Proses dialog internal dan eksternal ini menjadi kunci dalam pengembangan karya kreatif yang orisinal dan mendalam.

Keunikan Seni yang Tak Tergantikan oleh AI

Perdebatan mengenai potensi AI dalam menggantikan peran manusia, terutama di bidang seni, memang tengah hangat diperbincangkan. Kekhawatiran bahwa AI generatif, seperti video generator, dapat menggeser profesi sutradara dan aktor memang beralasan mengingat kemampuannya yang terus berkembang. Namun, Angga Dwimas Sasongko memberikan perspektif yang berbeda, yaitu fokus pada esensi seni itu sendiri.

Menurut Angga, seni memiliki dimensi emosional dan spiritual yang mendalam, yang seringkali terwujud dalam ketidaksempurnaan yang indah. "Yang membuat sebuah karya seni menjadi sangat mahal dan memiliki nilai seni adalah ketika beautifully messed, beautifully imperfect," tegasnya. Ketidaksempurnaan inilah yang memberikan karakter, keunikan, dan resonansi emosional pada sebuah karya.

AI, dengan algoritmanya yang presisi, cenderung menghasilkan output yang sempurna secara teknis. Kesempurnaan yang mutlak ini, menurut Angga, justru mengurangi nilai artistiknya. Karya seni yang autentik seringkali lahir dari pengalaman hidup, emosi manusia, dan bahkan kesalahan yang tak terduga, yang semuanya membentuk narasi dan kedalaman yang sulit direplikasi oleh mesin.

Sebagai sutradara yang telah banyak berkecimpung di industri film, Angga memahami betul bahwa proses kreatif bukan hanya tentang hasil akhir yang sempurna, tetapi juga tentang perjalanan emosional, interpretasi pribadi, dan sentuhan manusiawi yang membuat sebuah karya terasa hidup.

AI sebagai Katalisator Ide, Bukan Pencipta Karya Seni

Angga Dwimas Sasongko melihat AI sebagai alat yang kuat untuk mengartikulasikan ide-ide yang sedang berkembang. Ini berarti AI dapat membantu memvisualisasikan konsep, menyajikan data dalam format yang mudah dipahami, atau bahkan menghasilkan draf awal yang kemudian disempurnakan oleh manusia.

"AI itu lebih ke alat untuk mengartikulasikan konsep yang sedang dikembangkan," ujar Angga. Ia tidak melihat AI sebagai entitas yang mampu menciptakan karya seni dari nol dengan kedalaman makna yang sama seperti manusia.

Contoh penggunaan AI yang ia sebutkan, yaitu memanfaatkan split screen pada tablet untuk riset, menunjukkan bagaimana teknologi dapat diintegrasikan ke dalam alur kerja yang sudah ada untuk meningkatkan efisiensi. Dengan membandingkan informasi dari berbagai sumber secara simultan, seorang kreator dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan cepat.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan banyak ahli yang melihat AI sebagai "katalisator" bagi kreativitas manusia. AI dapat mempercepat proses yang memakan waktu, membebaskan kreator dari tugas-tugas repetitif, dan bahkan memberikan perspektif baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

Namun, penting untuk diingat bahwa AI masih memerlukan arahan, kurasi, dan sentuhan akhir dari manusia. Keputusan artistik, penentuan nada, dan penyampaian emosi yang kompleks tetap berada di tangan kreator.

Masa Depan Kolaborasi Manusia dan AI dalam Seni

Dengan semakin canggihnya AI, diskusi mengenai kolaborasi antara manusia dan mesin di dunia seni akan terus berkembang. Angga Dwimas Sasongko memberikan pandangan yang realistis: AI adalah alat produktivitas yang luar biasa, namun esensi seni yang berasal dari jiwa dan pengalaman manusia tidak dapat digantikan.

"Saya nggak merasa AI akan jadi solusi untuk creating atau creation," tegasnya. Ia menekankan bahwa keunikan dan emosi yang terkandung dalam karya seni adalah hasil dari interaksi kompleks antara pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup manusia.

Ke depan, para pekerja kreatif mungkin akan semakin mahir dalam memanfaatkan AI sebagai mitra kerja. AI dapat membantu dalam riset, analisis data, pembuatan draf awal, bahkan simulasi visual. Namun, pada akhirnya, interpretasi, orisinalitas, dan kedalaman emosional sebuah karya akan tetap menjadi domain manusia.

Angga Dwimas Sasongko memberikan pengingat penting bahwa teknologi adalah alat yang diciptakan untuk melayani manusia. Kuncinya adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak dan kreatif, sehingga teknologi tersebut justru memperkaya, bukan menggantikan, esensi kemanusiaan dalam setiap karya yang kita ciptakan. Kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan inilah yang kemungkinan akan membentuk lanskap seni di masa depan.

Masa depan seni mungkin tidak sepenuhnya didominasi oleh mesin, tetapi oleh kolaborasi cerdas antara manusia dan AI. Angga Dwimas Sasongko menyoroti bahwa AI akan menjadi alat bantu yang sangat berharga untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses kreatif.

"AI itu alat produktivitas, bukan alat untuk menciptakan seni itu sendiri," ujar Angga. Ia menekankan bahwa keindahan seni terletak pada ketidaksempurnaan yang disengaja, sentuhan emosional, dan pengalaman hidup yang membentuk sebuah karya.

Ia mengibaratkan penggunaannya dengan teknologi tablet yang memungkinkan split screen. "Kalau saya memakai ini untuk dialektika, jadi ada tiga pihak yang berdialektika yaitu AI saya, informasi yang saya gali, sama diri saya sendiri," jelasnya. Ini menunjukkan bagaimana AI dapat menjadi bagian dari proses berpikir yang lebih kompleks dan mendalam.

Dengan demikian, alih-alih menggantikan peran manusia, AI generatif justru berpotensi menjadi mitra kolaborasi yang ampuh bagi para seniman, mendorong batas-batas kreativitas dan efisiensi dalam penciptaan karya seni.

Tinggalkan komentar


Related Post