Google Form Permudah Pendataan Stunting dan TB di Perante

1 Juni 2026

6
Min Read

Masalah stunting dan tuberkulosis (TB) menjadi dua tantangan kesehatan serius yang masih dihadapi Indonesia. Di Desa Perante, Situbondo, dua persoalan ini tidak hanya disikapi sebagai isu terpisah, melainkan diatasi secara terpadu melalui inovasi sederhana namun efektif.

Inisiatif ini berawal dari keprihatinan mendalam Siti Zubaidah (59), Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Perante, dan wakilnya, Farhana (29). Mereka melihat keterkaitan erat antara stunting dan TB yang kerap menciptakan lingkaran setan kesehatan, terutama pada anak-anak.

"Setelah saya telusuri, ternyata belum ada yang menggabungkan penanganan dua masalah ini. Di sini, kami berupaya menyelesaikan keduanya dalam satu pendekatan," ujar Farhana dalam wawancara telepon dengan detikINET pada Jumat, 29 Mei 2026.

Farhana, yang juga berprofesi sebagai guru di MIM Perante, menjelaskan fenomena ini layaknya lingkaran setan. Anak yang mengalami stunting lebih rentan terserang tuberkulosis. Sebaliknya, infeksi TB pada anak dapat menghambat tumbuh kembang optimal mereka, memperparah kondisi stunting.

"Jika seorang anak sudah mengalami stunting, penanganannya bukan hanya dalam hitungan bulan, melainkan membutuhkan waktu bertahun-tahun, mungkin dua hingga tiga tahun. Oleh karena itu, jika ada anak stunting, penting untuk melakukan pemeriksaan seluruh anggota keluarga untuk mendeteksi potensi penularan TB," tegasnya.

Upaya pencegahan dan penanganan stunting di Desa Perante telah digalakkan sejak tahun 2023 melalui program "Kardas Centing Tosis" atau Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberkulosis. Farhana mengakui bahwa sentuhan teknologi, sekecil apapun seperti penggunaan Google Form dan grup WhatsApp, ternyata memberikan dampak signifikan dalam memperluas dan mempercepat proses pendataan.

Inovasi Digital Sederhana yang Berdampak Besar

Pendekatan baru ini memungkinkan keluarga yang didata untuk memberikan informasi dengan lebih nyaman dan tanpa rasa sungkan. Hasil skrining awal yang diperoleh melalui Google Form ini kemudian menjadi dasar penting untuk konsultasi lebih lanjut di Posyandu.

"Google Form ini kami sebarkan melalui grup WhatsApp Kader Posyandu. Selain mengandalkan formulir daring dan edukasi di WhatsApp, kami juga rutin mengadakan penyuluhan dan lokakarya mengenai bahaya TB dan stunting," ungkap Hana, sapaan akrab Farhana.

Dengan memanfaatkan Google Form, upaya pendataan skrining stunting dan tuberkulosis di Desa Perante menunjukkan hasil yang membanggakan. Hingga kini, hampir seluruh warga desa telah terdata.

Data terakhir mencatat, sekitar 200 anak telah terdata terkait masalah stunting. Sementara itu, untuk skrining tuberkulosis, jumlah orang yang terdata mencapai 500 hingga 600 orang. Angka ini signifikan mengingat jumlah penduduk Desa Perante yang berkisar hampir 1.000 jiwa.

Setelah berkoordinasi dengan petugas Posyandu dan bidan desa, anak-anak yang teridentifikasi stunting berhak mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara gratis selama satu bulan. Meskipun belum ada data kuantitatif pasti mengenai penurunan angka stunting, Hana mengaku telah menerima kabar baik dari lapangan.

"Saat itu saya ikut membantu menyalurkan PMT di tahun 2024. Ternyata, ada beberapa anak di tahun 2025 tidak lagi menerima PMT. Saya pun bertanya kepada kader, ‘Mengapa tidak dapat lagi?’ Jawabannya adalah, ‘Anak ini sudah sehat, anaknya tidak stunting lagi’," kisahnya dengan nada bahagia.

Strategi “Jemput Bola” untuk Data Komprehensif

Menyadari bahwa tidak semua warga memiliki akses atau kemudahan untuk mengisi formulir secara daring, Farhana dan timnya tidak tinggal diam. Mereka menerapkan strategi "jemput bola" untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat.

"Bagi keluarga yang belum terdata secara online, kami akan mendatangi rumah mereka secara langsung. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua warga desa terdata dalam formulir tersebut," jelasnya.

Pendekatan inovatif ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana, ketika dikombinasikan dengan kemauan kuat dan strategi yang tepat, dapat menjadi alat yang ampuh dalam mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat.

Dampak Stunting dan Tuberkulosis pada Kesehatan Anak

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini bukan hanya berdampak pada tinggi badan anak yang tidak sesuai usia, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, serta kesehatan jangka panjang.

Anak yang mengalami stunting memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis. TB sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Ketika seorang anak stunting terinfeksi TB, proses penyembuhan dan pemulihan menjadi lebih kompleks. Bakteri TB dapat menyerang paru-paru dan organ lain, memperburuk kondisi gizi anak dan menghambat potensi tumbuh kembangnya secara maksimal.

Hubungan timbal balik ini menjadikan penanganan stunting dan TB sebagai upaya yang saling melengkapi. Dengan mengintervensi stunting, daya tahan tubuh anak akan meningkat, sehingga lebih kuat melawan infeksi TB. Sebaliknya, keberhasilan pengobatan TB akan membebaskan anak dari ancaman penyakit tersebut, memberikan kesempatan lebih besar untuk tumbuh optimal.

Peran Penting Posyandu dan Pemberian Makanan Tambahan

Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) memegang peranan vital dalam program kesehatan ibu dan anak di tingkat akar rumput. Sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, Posyandu menjadi tempat pemantauan tumbuh kembang anak, imunisasi, serta edukasi kesehatan bagi orang tua.

Dalam kasus di Desa Perante, Posyandu menjadi titik lanjutan setelah skrining awal melalui Google Form. Anak-anak yang terindikasi stunting akan segera ditindaklanjuti dengan pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

PMT merupakan program intervensi gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, terutama bagi mereka yang berisiko kekurangan gizi atau mengalami stunting. Pemberian makanan bergizi ini bertujuan untuk membantu anak mencapai berat dan tinggi badan ideal sesuai usianya, serta meningkatkan status gizinya.

Program PMT yang diberikan secara gratis selama satu bulan, seperti yang diterapkan di Desa Perante, menjadi stimulus penting bagi pemulihan gizi anak. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari selesainya masa pemberian PMT, tetapi lebih penting lagi adalah perubahan status gizi anak yang menjadi lebih baik, bahkan hingga tidak lagi tergolong stunting.

Digitalisasi Sederhana untuk Efisiensi Pendataan

Pemanfaatan Google Form dan grup WhatsApp dalam program pencegahan stunting dan TB di Desa Perante merupakan contoh nyata bagaimana teknologi digital dapat diadopsi secara efektif di tingkat komunitas, bahkan dengan sumber daya yang terbatas.

Google Form menawarkan kemudahan dalam pembuatan kuesioner daring yang dapat diakses oleh siapa saja dengan koneksi internet. Data yang terkumpul secara otomatis tersimpan dalam spreadsheet, memudahkan analisis dan tindak lanjut. Hal ini secara drastis mengurangi waktu dan tenaga yang biasanya dibutuhkan untuk pendataan manual.

Sementara itu, grup WhatsApp berfungsi sebagai media komunikasi yang cepat dan efisien. Kader Posyandu dapat dengan mudah menyebarkan informasi, tautan Google Form, materi edukasi, serta berkoordinasi antaranggota. Ini memperkuat jejaring kerja dan mempercepat respons terhadap isu-isu kesehatan yang muncul di masyarakat.

Kombinasi kedua alat digital ini tidak hanya mempercepat proses pendataan, tetapi juga meningkatkan partisipasi masyarakat. Kemudahan akses dan anonimitas yang ditawarkan formulir daring dapat mendorong lebih banyak warga untuk melaporkan kondisi kesehatan mereka tanpa rasa khawatir.

Keberhasilan Desa Perante dalam mengintegrasikan teknologi sederhana ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengadopsi solusi serupa guna mempercepat pendataan dan penanganan masalah kesehatan prioritas. Ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus rumit dan mahal, tetapi dapat lahir dari kepedulian dan pemanfaatan sumber daya yang ada secara kreatif.

Tinggalkan komentar


Related Post