El Nino Super Mengintai, Akankah Bencana 1997 Terulang?

31 Mei 2026

5
Min Read

Fenomena El Nino kembali menjadi sorotan dunia, memunculkan kekhawatiran akan potensi kekuatan super yang bisa menyamai atau bahkan melampaui bencana alam dahsyat pada 1997-1998. Kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang terdeteksi sejak akhir 1996 menjadi sinyal awal yang tak biasa, menandakan kehadiran El Nino dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Periode 1997-1998 tercatat sebagai salah satu peristiwa El Nino paling menghancurkan dalam sejarah modern. Kejadian ini tidak hanya memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan dan hilangnya ribuan nyawa. Para ilmuwan, berbekal teknologi pemantauan yang semakin canggih, kini kembali mengamati tanda-tanda yang mirip, memicu pertanyaan besar: apakah sejarah kelam itu akan terulang kembali?

Jejak El Nino Dahsyat 1997-1998

Kisah El Nino 1997-1998 dimulai secara perlahan namun pasti sejak akhir 1996. Jaringan pelampung yang tersebar di Samudra Pasifik menangkap anomali suhu lautan yang mulai meningkat. Pada Februari 1997, hamparan air hangat membentang luas melintasi Pasifik khatulistiwa, membentang sejauh lebih dari 11.000 kilometer dari pesisir Peru hingga Papua Nugini.

Memasuki Mei 1997, gelombang panas laut ini semakin kuat dan bergerak ke timur. Suhu di bawah permukaan laut mengalami peningkatan drastis, mencapai lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata normal. Puncak dari fenomena ini adalah naiknya air hangat tersebut ke permukaan, menyebabkan suhu permukaan laut di Pasifik timur meroket. Keadaan ini secara definitif mengindikasikan bahwa El Nino yang sangat kuat sedang terbentuk.

Upaya pemantauan El Nino secara ilmiah baru intensif dilakukan setelah peristiwa dahsyat 1982-1983. Didorong oleh kejadian yang sebagian besar terjadi tanpa prediksi tersebut, para ilmuwan memperluas jangkauan pemantauan dengan memasang lebih banyak pelampung di laut sejak pertengahan 1980-an. Pemasangan pelampung yang rampung pada pertengahan 1990-an memungkinkan para peneliti untuk memantau kejadian El Nino 1997-1998 secara ilmiah dari awal hingga akhir. Kejadian inilah yang kemudian dijuluki sebagai El Nino pertama yang terdeteksi dan dipantau secara komprehensif.

Dampak Global: Cuaca Ekstrem dan Bencana Beruntun

El Nino 1997-1998 bukan sekadar fenomena cuaca biasa, melainkan katalisator bagi serangkaian bencana alam yang melanda berbagai penjuru dunia. Kenaikan suhu global yang signifikan selama periode tersebut, yang tercatat sebagai tahun terpanas hingga 2016, menjadi pemicu utama. Udara yang kaya kelembapan naik dan menimbulkan curah hujan ekstrem di banyak wilayah.

Di Tanduk Afrika, banjir bandang yang dipicu El Nino membuka jalan bagi wabah penyakit mematikan seperti malaria, demam Rift Valley, dan kolera. Pola serupa terjadi di Amerika Latin, di mana cuaca ekstrem memunculkan peningkatan kasus penyakit yang ditularkan melalui air dan gigitan nyamuk. Papua Nugini, Indonesia, dan Filipina juga merasakan dampak lonjakan penyakit akibat curah hujan yang berlebihan. Sementara itu, Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan diterjang badai topan dahsyat sepanjang musim panas.

Namun, El Nino juga membawa sisi sebaliknya: kekeringan parah. Fenomena ini tidak menciptakan air, melainkan mengalihkan distribusinya, menyebabkan beberapa daerah menjadi lebih basah sementara yang lain mengalami kelangkaan air yang ekstrem. Lembah Amazon menjadi salah satu wilayah yang paling parah dilanda kekeringan, memicu kebakaran hutan yang tak kunjung padam. Indonesia, Malaysia, dan Filipina, yang sebelumnya sempat dilanda banjir, kini bergulat dengan kondisi kering yang mengancam. Korea Utara bahkan menghadapi wabah kolera yang parah akibat kekeringan yang berkepanjangan.

Amerika Serikat pun tidak luput dari dampak El Nino. Wilayah California dan negara-negara bagian selatan dilanda badai dan banjir hebat. Sebaliknya, wilayah utara Amerika Serikat justru menikmati musim dingin yang sangat sejuk, bahkan dijuluki sebagai "tahun tanpa musim dingin" karena suhu yang terasa hangat dan tidak sesuai musimnya.

Seluruh kekacauan cuaca ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merenggut ribuan nyawa. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, diperkirakan ribuan orang meninggal di seluruh dunia akibat berbagai bencana yang dipicu El Nino, mulai dari banjir, kekeringan, kelaparan, kebakaran hutan, panas ekstrem, hingga penyebaran penyakit. Meskipun sulit menghitung angka pasti korban jiwa yang secara langsung disebabkan oleh El Nino 1997-1998, angka 23.000 kematian sering kali dikutip sebagai perkiraan.

Dampak ekonomi dari bencana ini pun tak kalah mengerikan. Diperkirakan tingkat kemiskinan meningkat hingga 15% di beberapa negara yang paling parah terdampak. Secara global, kerugian ekonomi akibat El Nino 1997-1998 diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu USD 5,7 triliun.

Potensi El Nino Super di Masa Depan

Kini, dunia kembali dihadapkan pada bayangan El Nino yang berpotensi kuat. Sejumlah organisasi meteorologi telah mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan besar El Nino kembali menghantam pada Juli 2026. Beberapa ahli bahkan memprediksi bahwa fenomena yang sangat kuat sedang dalam proses pembentukan.

Meskipun pada pertengahan Mei 2026 situasinya belum separah awal 1997, proses pembentukannya terus berlanjut. Josh Willis, seorang peneliti di Jet Propulsion Laboratory NASA, menyatakan, "Meski fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat daripada El Nino besar 2015 dan 1997, intensitasnya mulai menyusul. Kita akan lihat seberapa besar dampaknya nanti."

Ancaman El Nino super ini kembali mengingatkan kita akan kerentanan planet ini terhadap perubahan iklim dan fenomena alam ekstrem. Pemantauan yang cermat dan kesiapsiagaan yang matang menjadi kunci untuk memitigasi potensi bencana yang mungkin terjadi. Apakah El Nino di masa depan akan menyaingi kekuatan destruktif musim 1997-1998 masih menjadi pertanyaan yang menggantung. Namun, kewaspadaan dan persiapan adalah langkah bijak untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tinggalkan komentar


Related Post