Ikan Sapu-sapu Bisa Dibudidayakan, Solusi Atasi Ancaman Lingkungan

1 Mei 2026

5
Min Read

Indonesia menghadapi tantangan unik terkait populasi ikan sapu-sapu yang terus berkembang. Ikan yang dikenal sebagai pembersih akuarium ini justru menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan lokal. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak tinggal diam. Mereka merumuskan strategi inovatif yang tidak hanya berfokus pada pemberantasan, tetapi juga pada pemanfaatan ikan sapu-sapu melalui budidaya.

Bisa jadi, ancaman lingkungan ini justru akan berbalik menjadi peluang ekonomi baru. Dengan pendekatan yang tepat, ikan sapu-sapu yang selama ini dianggap hama berpotensi menjadi komoditas berharga, mirip dengan bagaimana ikan lele bertransformasi dari hewan yang kurang diminati menjadi sumber protein terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Ikan Asing yang Mendominasi Perairan Indonesia

Triyanto, Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, menjelaskan fenomena ikan sapu-sapu. Ia menggarisbawahi bahwa ikan-ikan yang kini menjadi favorit konsumsi masyarakat, seperti nila, mas, mujair, dan lele, sejatinya juga merupakan spesies ikan asing yang didatangkan ke Indonesia. Kedatangan mereka bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, karena sifatnya yang mudah berkembang biak dan dibudidayakan.

"Ini ikan asing juga, tapi dulu dimasukkan ke Indonesia rata-rata untuk, karena mudah dikembangbiakkan dan dibudidayakan, demi ketahanan pangan," ujar Triyanto dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Dalam konteks ini, ikan sapu-sapu pun memiliki potensi serupa. Meskipun citranya saat ini masih negatif di mata masyarakat, bukan tidak mungkin ikan ini bisa dibudidayakan layaknya ikan konsumsi lainnya. Triyanto memberikan analogi dengan ikan lele. Pada era 1980-an, banyak masyarakat enggan mengonsumsi lele karena identik dengan kehidupan di empang yang kotor. Namun, seiring perkembangan teknologi budidaya yang menerapkan fasilitas bersih dan standar yang sesuai, ikan lele kini menjadi salah satu primadona di meja makan masyarakat Indonesia.

Syarat Budidaya Ikan Sapu-sapu: Lingkungan Bersih adalah Kunci

Namun, jalan menuju budidaya ikan sapu-sapu bukanlah tanpa tantangan. Triyanto menekankan bahwa budidaya ikan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa temuan penelitian yang patut menjadi perhatian serius.

Studi-studi ilmiah menemukan adanya kandungan logam berat dalam daging ikan sapu-sapu, seperti timbal, merkuri, kadmium, dan kromium. Logam berat ini diduga kuat dapat menimbulkan kerusakan pada organ vital manusia, yaitu hati dan ginjal. Selain itu, penelitian juga mendeteksi keberadaan bakteri E. coli pada ikan sapu-sapu.

Kondisi ini menjadi perhatian utama BRIN. Triyanto menegaskan, "Jadi masyarakat yang sudah terlanjur cinta sapu-sapu, ada solusinya kita bersihkan, kita kembangkan, kita pelihara di perairan yang bersih."

Penting untuk dipahami bahwa kandungan logam berat dan kontaminan lainnya pada ikan sapu-sapu seringkali disebabkan oleh lingkungan hidupnya. Ikan sapu-sapu cenderung ditemukan di perairan yang tercemar. Ketika mereka hidup di lingkungan yang bersih, kemampuan mereka menyerap logam berat pun akan berkurang.

Potensi Pemanfaatan Ikan Sapu-sapu Lebih Luas

Jika budidaya ikan sapu-sapu dapat dilakukan dengan standar yang ketat, maka potensi pemanfaatannya menjadi sangat luas. Triyanto memaparkan beberapa ide pemanfaatan yang inovatif.

Pertama, ikan sapu-sapu hasil budidaya dapat diolah menjadi pakan untuk jenis ikan lain yang tidak dikonsumsi manusia. Ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi biaya pakan dalam budidaya ikan hias atau ikan yang ditujukan untuk keperluan riset.

Kedua, bangkai ikan sapu-sapu yang tidak terpakai dapat diolah menjadi pupuk organik. Kandungan nutrisi dalam ikan dapat menyuburkan tanah, mendukung pertanian yang berkelanjutan.

Ketiga, ikan sapu-sapu juga dapat diubah menjadi arang. Ide ini pernah diutarakan oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Pramono Anung, sebagai salah satu bentuk pemanfaatan limbah ikan sapu-sapu. Arang dari ikan sapu-sapu bisa memiliki kegunaan tersendiri, baik sebagai bahan bakar maupun aplikasi industri lainnya.

Mitos dan Fakta Mengenai Konsumsi Ikan Sapu-sapu

Isu mengenai praktik penjualan siomay dan batagor yang dicampur dengan daging ikan sapu-sapu juga sempat mengemuka. Triyanto memberikan pandangan yang lebih bernuansa mengenai hal ini.

Menurutnya, kandungan logam berat dalam daging ikan sapu-sapu yang dijual di pasaran, asalkan berasal dari budidaya yang terkontrol, masih berada di bawah ambang batas aman. Dengan catatan, masyarakat tidak mengonsumsi olahan ikan sapu-sapu dalam jumlah yang sangat besar dan terus-menerus.

"Kalau nggak salah para peneliti di bagian kesehatan, kurang lebih 8 kg seminggu, berarti sehari satu kilogram. Sanggup sehari makan siomay satu kilogram?" ujar Triyanto dengan nada retoris.

Ia menjelaskan lebih lanjut, "Paling semangkok isinya lima, dan sapu-sapunya paling 20-30%. Jadi kalau kita makan berturut-turut selama sekian tahun, satu minggunya delapan kilogram, baru kita terpapar logam berat."

Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa kekhawatiran berlebihan mengenai konsumsi olahan ikan sapu-sapu mungkin perlu dikaji ulang. Namun, edukasi mengenai asal-usul dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas.

Mengubah Persepsi Negatif Melalui Inovasi

Perjalanan ikan sapu-sapu dari ancaman menjadi peluang budidaya bukanlah hal yang mustahil. Sama seperti ikan lele yang berhasil mengubah citranya, ikan sapu-sapu pun memiliki potensi yang sama, asalkan didukung oleh riset, teknologi budidaya yang tepat, serta kampanye edukasi yang efektif kepada masyarakat.

BRIN melalui penelitiannya telah membuka pintu solusi. Kini, tinggal bagaimana pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bersinergi untuk mewujudkan potensi ini. Dengan lingkungan budidaya yang terkontrol dan pemanfaatan yang optimal, ikan sapu-sapu bisa menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Tinggalkan komentar


Related Post