Indonesia menghadapi gelombang serangan siber yang terus meningkat, menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi krusial. AI bukan sekadar teknologi, melainkan mitra strategis yang vital dalam memperkuat operasional keamanan siber.
Wisnu Nursahid, General Manager Virtus, menekankan peran AI dalam otomatisasi tugas berulang. Hal ini membebaskan sumber daya manusia untuk fokus pada analisis mendalam dan pengambilan keputusan strategis. "AI adalah mitra kerja kita, terutama untuk menangani pekerjaan repetitif dan otomatis. Dengan begitu, manusia bisa lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan," ujar Wisnu dalam acara R17 Podcast Show vol.4 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Tren Serangan Siber yang Mengkhawatirkan
Peningkatan signifikan ancaman siber di Indonesia tercermin dalam data dua tahun terakhir. Wisnu memaparkan, pada tahun 2025, tercatat sekitar 5,5 miliar serangan siber. Angka ini terus merangkak naik, di mana pada kuartal pertama tahun 2026 saja, sudah terdeteksi sekitar 1,5 miliar serangan.
Tantangan terbesar saat ini adalah mengidentifikasi seberapa besar porsi serangan yang memanfaatkan kecanggihan AI. Pemahaman ini krusial untuk memetakan pola ancaman yang semakin kompleks dan adaptif. "Menarik jika kita bisa mengategorikan dari seluruh serangan tersebut, mana yang merupakan AI-driven attack. Ini bisa menjadi bahan analisis yang penting," ungkap Wisnu.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi data, misalnya antara Red Intelligence dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai lanskap serangan siber, khususnya yang berbasis AI. Namun, ia mengakui bahwa data pasti mengenai proporsi serangan berbasis AI masih terbatas.
"Hingga saat ini kami sendiri belum memiliki data yang benar-benar pasti terkait proporsi serangan berbasis AI tersebut," kata Wisnu. Ia menyarankan perlunya sistem pengumpulan dan analisis data yang lebih matang dan komprehensif, kemungkinan dari platform intelijen khusus, untuk menghasilkan gambaran yang akurat.
AI sebagai Kunci Ketahanan Siber
Adopsi AI dalam organisasi memerlukan pendekatan dua aspek: sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Wisnu menegaskan bahwa faktor manusia memegang peranan penting, bahkan sekitar 40% keberhasilan ketahanan siber sebuah organisasi bergantung pada SDM.
"Pertama adalah people (sumber daya manusia). Sekitar 40% keberhasilan ketahanan sebuah organisasi ditentukan oleh faktor manusia," jelasnya. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman dan kapabilitas SDM dalam memanfaatkan AI menjadi prioritas. Kontribusi mereka dalam memperkuat pertahanan siber sangatlah besar.
Dari sisi teknologi, organisasi perlu membangun sistem keamanan yang terintegrasi. Salah satu fondasi utamanya adalah melalui Security Operations Center (SOC).
"Kedua adalah dari sisi teknologi. Sebagai contoh, dalam konteks Security Operations Center (SOC), tentu semua organisasi ingin memiliki sistem yang lengkap dan terintegrasi, baik dari sisi people, process, maupun technology," tambah Wisnu.
Implementasi SOC mencakup berbagai komponen keamanan canggih yang kini mulai diadopsi secara luas. Ini termasuk teknologi seperti endpoint security, deteksi jaringan (network detection), sistem pencegahan intrusi (IDS/IPS), hingga layanan Managed Detection and Response (MDR).
Peran AI dalam Pertahanan Siber
Kecerdasan buatan (AI) semakin diakui sebagai alat vital dalam menghadapi eskalasi serangan siber di Indonesia. Dalam lanskap digital yang dinamis, AI bertransformasi dari sekadar teknologi menjadi mitra strategis yang tak terpisahkan dari operasional keamanan siber.
Wisnu Nursahid, General Manager Virtus, menyoroti bagaimana AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas yang bersifat repetitif. Ini memungkinkan para profesional keamanan siber untuk mengalihkan fokus mereka pada pekerjaan yang memerlukan analisis mendalam dan pengambilan keputusan yang lebih strategis.
"Secara positif, AI berfungsi sebagai mitra kerja kita. AI sangat efektif dalam menangani pekerjaan yang sifatnya berulang dan otomatis. Dengan demikian, sumber daya manusia dapat lebih berkonsentrasi pada tugas-tugas yang membutuhkan analisis kritis dan kemampuan pengambilan keputusan," papar Wisnu saat ditemui di acara R17 Podcast Show vol.4, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026).
Lonjakan Ancaman Siber: Sebuah Kenyataan
Di sisi lain, Wisnu menyoroti tren peningkatan serangan siber di Indonesia yang begitu signifikan. Data yang tersedia menunjukkan lonjakan tajam dalam dua tahun terakhir.
"Melihat kembali ke pokok persoalan, fokus kita harus tertuju pada keamanan siber di Indonesia dan berbagai jenis pekerjaan yang terkait. Berdasarkan data yang sempat saya sampaikan, pada tahun 2025, tercatat sekitar 5,5 miliar serangan siber. Sementara itu, memasuki kuartal pertama tahun 2026, jumlah serangan sudah mencapai sekitar 1,5 miliar," jelasnya.
Salah satu tantangan krusial yang dihadapi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi seberapa besar proporsi serangan yang kini memanfaatkan kecanggihan AI. Pemahaman mendalam mengenai hal ini sangat penting untuk mengantisipasi dan memahami pola ancaman yang semakin kompleks dan adaptif.
"Akan sangat menarik apabila kita dapat mengkategorikan dari total serangan yang terjadi, mana saja yang merupakan AI-driven attack. Informasi ini bisa menjadi landasan analisis yang sangat berharga," ujar Wisnu. Ia mengemukakan bahwa data dari lembaga intelijen seperti Red Intelligence, jika dikombinasikan dengan data dari BSSN, berpotensi memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai lanskap serangan siber, khususnya yang berbasis AI.
Namun, ia secara terbuka mengakui bahwa hingga saat ini, belum tersedia data pasti mengenai proporsi serangan yang secara spesifik didorong oleh AI. Diperlukan pengembangan sistem pengumpulan dan analisis data yang lebih canggih dan terstruktur untuk mendapatkan gambaran yang akurat.
"Sampai saat ini, kami sendiri belum memiliki data yang benar-benar definitif terkait proporsi serangan berbasis AI tersebut. Kemungkinan besar, data yang lebih detail dapat diperoleh dari platform intelijen yang memiliki kapabilitas pengumpulan dan analisis data yang lebih mumpuni," paparnya. Oleh karena itu, Wisnu menekankan pentingnya penyusunan kategorisasi dan alur kerja yang lebih ketat untuk memastikan akurasi data yang dihasilkan.
Fondasi Ketahanan Siber: Manusia dan Teknologi
Wisnu lebih lanjut menjelaskan bahwa implementasi AI dalam sebuah organisasi harus dilihat dari dua pilar utama: sumber daya manusia dan infrastruktur teknologi. Dari perspektif SDM, peran manusia tetap menjadi penentu utama dalam menjaga ketahanan organisasi terhadap berbagai jenis serangan siber.
"Yang pertama adalah people atau sumber daya manusia. Sekitar 40% dari keberhasilan ketahanan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh faktor manusia. Oleh karena itu, integrasi pemahaman dan pemanfaatan AI pada SDM harus terus ditingkatkan, mengingat kontribusinya sangat besar bagi keamanan," ungkapnya.
Sementara itu, dari sisi teknologi, organisasi perlu proaktif dalam membangun sistem keamanan yang terintegrasi. Salah satu elemen kunci dalam hal ini adalah keberadaan Security Operations Center (SOC).
"Yang kedua adalah dari sisi teknologi. Sebagai ilustrasi, dalam konteks Security Operations Center (SOC), tentu setiap organisasi berupaya memiliki sistem yang komprehensif dan terintegrasi. Ini mencakup aspek people, process, dan technology," tambahnya.
Dalam praktiknya, SOC mengintegrasikan berbagai komponen keamanan yang krusial. Sebagian besar organisasi kini telah mengadopsi solusi seperti endpoint security untuk melindungi perangkat individu, sistem deteksi jaringan untuk memantau lalu lintas, solusi Intrusion Detection System/Intrusion Prevention System (IDS/IPS) untuk mendeteksi dan mencegah ancaman, hingga layanan Managed Detection and Response (MDR) untuk respons insiden yang lebih cepat dan efektif.









Tinggalkan komentar