DRB Hadirkan Data Center Tier IV dan Jaringan Global untuk Ekonomi Digital Indonesia

23 April 2026

5
Min Read

Perkembangan pesat ekonomi digital Indonesia kini didukung oleh infrastruktur yang kian canggih. Digital Realty Bersama (DRB) meluncurkan data center berstandar Tier IV yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan Kecerdasan Buatan (AI) dan memperkenalkan ServiceFabric, sebuah platform interkoneksi global inovatif. Langkah strategis ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat digital di kawasan.

Peluncuran ServiceFabric dijadwalkan pada paruh kedua tahun 2026. Platform ini akan menjadi jembatan bagi bisnis lokal untuk terhubung secara mulus dengan infrastruktur AI global, membuka peluang baru untuk inovasi dan pertumbuhan. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Chief Financial Officer DRB, Krishna Worotikan, dan Director of Business & Commercial DRB, Andha Yudha Permana, saat kunjungan media di fasilitas data center CGK11 milik DRB di Jakarta Timur, Rabu (22/4/2026).

"Kami tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga menciptakan ekosistem digital yang kuat dan terhubung," ujar Yudha dalam kesempatan tersebut. Ia menambahkan bahwa DRB berkomitmen menyediakan solusi infrastruktur digital terintegrasi yang didukung oleh keahlian global Digital Realty.

Fondasi Digital Kokoh: Data Center Tier IV Siap AI

DRB, sebagai perusahaan patungan antara Digital Realty dengan Bersama Digital Data Centres, membawa standar global ke Indonesia. Digital Realty sendiri telah membangun reputasi global dengan mengoperasikan 300 data center di 25 negara, melayani lebih dari 5.000 pelanggan. Di Indonesia, DRB didukung oleh entitas kuat seperti Saratoga, Provident, Macquarie, dan Distro Hub, memperkuat posisinya di pasar.

Saat ini, DRB mengoperasikan dua fasilitas data center di Indonesia. Yang pertama, CGK10 di Jakarta Barat, beroperasi dengan standar Tier III. Fasilitas kedua, CGK11 yang berlokasi di Cawang, telah mencapai standar tertinggi yaitu Tier IV. Sertifikasi Tier IV menjamin ketersediaan operasional hingga 100% atau uptime maksimal, yang krusial bagi kelangsungan bisnis digital.

Fasilitas CGK11 memiliki kapasitas total 63 Megawatt (MW), dengan luas data hall seluas 20.000 meter persegi dan mampu menampung 9.000 rak server. DRB tidak berhenti di sini; mereka berencana menambah dua gedung lagi di lokasi CGK10 dan satu gedung tambahan di CGK11. Potensi pasar terbesar DRB di Indonesia dilihat pada sektor perbankan dan keuangan, yang membutuhkan keandalan dan keamanan data tingkat tinggi.

"Melalui fasilitas kami yang tersertifikasi Tier IV, kami menyediakan fondasi digital paling kokoh dan aman di Indonesia saat ini," tegas Yudha. Pernyataan ini menegaskan komitmen DRB untuk menjadi penyedia infrastruktur digital terdepan di tanah air.

ServiceFabric: Menghubungkan Indonesia ke Jaringan AI Global

Inovasi kunci yang akan diluncurkan DRB adalah ServiceFabric. Platform interkoneksi generasi terbaru ini dirancang untuk memudahkan klien DRB terhubung ke seluruh jaringan data center mereka di seluruh dunia secara remote. Bayangkan, sebuah perusahaan di Jepang dapat dengan mudah mendirikan dan mengelola operasional data center di Indonesia tanpa harus berada di lokasi fisik.

"Kami sangat antusias untuk segera meluncurkan ServiceFabric di Indonesia," ungkap Yudha. Ia menjelaskan bahwa platform terbuka ini akan mendorong terciptanya ekosistem yang kolaboratif dan terhubung erat, sebuah keharusan untuk mendukung kebutuhan Artificial Intelligence (AI) dan High-Performance Computing (HPC).

Dengan ServiceFabric, pelanggan akan memiliki kendali penuh atas konektivitas mereka. Mereka dapat menghubungkan infrastruktur lokal ke pusat data global hanya dalam hitungan menit. Fleksibilitas ini sangat penting untuk mempercepat transformasi digital perusahaan, tanpa perlu mengorbankan standar keamanan yang ketat.

DRB mengklaim keunggulan ServiceFabric terletak pada integrasi penyedia layanan cloud, jaringan, dan infrastruktur IT dalam satu platform terpadu. Ini dimungkinkan melalui PlatformDIGITAL®, platform data center global milik Digital Realty. Pendekatan yang didukung oleh software-defined ini secara signifikan mengurangi hambatan geografis dan teknis dalam interkoneksi global, menciptakan jalur komunikasi data yang lebih cepat dan aman bagi pelaku bisnis di Indonesia.

Indonesia sebagai Pusat Interkoneksi Digital

Keunggulan lain yang ditawarkan DRB adalah peran strategisnya sebagai pusat interkoneksi di Indonesia. Kehadiran node IIX-JK2 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di fasilitas CGK11 menjadikan pusat data ini sebagai hub penting bagi lalu lintas internet nasional.

Keberadaan hub internet nasional ini memastikan bahwa data lokal diproses dengan latensi yang sangat rendah. Hasilnya adalah performa optimal bagi pengguna di seluruh Indonesia, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun aplikasi bisnis yang membutuhkan respons cepat.

Potensi ekonomi digital Indonesia sangatlah besar. Proyeksi menunjukkan nilainya akan melampaui 130 miliar Dolar AS pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan penetrasi internet dan transaksi digital yang terus tumbuh. DRB siap mendukung pertumbuhan ini dengan menyiapkan data center yang mampu menangani beban kerja AI dan HPC.

Infrastruktur khusus yang dibutuhkan untuk AI dan HPC meliputi kepadatan daya yang tinggi, sistem pendingin cair (liquid cooling), serta solusi colocation berdensitas tinggi. Kebutuhan ini muncul karena komputasi intensif yang menjadi ciri khas beban kerja AI modern.

Krishna Worotikan, CFO DRB, menekankan pentingnya infrastruktur yang visioner untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. "Kami melihat AI sebagai katalis utama yang akan mengubah lanskap bisnis secara fundamental," ujarnya.

Melalui integrasi ServiceFabric dan keahlian global Digital Realty dalam menangani beban kerja AI berskala besar, termasuk teknologi pendingin cair dan colocation berdensitas tinggi, DRB memastikan perusahaan di Indonesia memiliki jalur ekspansi yang lebih mudah untuk terhubung dengan ekosistem global.

Langkah DRB ini tidak hanya tentang menyediakan ruang server, tetapi juga membangun ekosistem digital yang memungkinkan inovasi, kolaborasi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi Indonesia di era digital yang semakin kompetitif.

Tinggalkan komentar


Related Post