JAKARTA – Meskipun baru saja melepaskan jabatan prestisiusnya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Apple, Tim Cook dipastikan akan tetap memegang peranan krusial. Ia akan menjadi negosiator utama Apple, khususnya dalam urusan lobi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Apple, disebutkan bahwa dalam kapasitas barunya, Cook akan terus memberikan kontribusi dalam berbagai aspek strategis perusahaan. Salah satu fokus utamanya adalah keterlibatan aktif dengan para pembuat kebijakan di kancah global.
Implikasi dari peran baru ini cukup jelas: pria berusia 65 tahun tersebut akan tetap menjadi garda terdepan dalam mengelola hubungan politik perusahaan yang kompleks. Sasaran utamanya tak lain adalah Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump.
Kemampuan Bermanuver di Lingkaran Politik
Selama menjabat sebagai nakhoda Apple, Tim Cook telah membuktikan kemampuannya dalam menavigasi dinamika bisnis perusahaan di tengah gejolak politik yang tak menentu. Ia piawai menyeimbangkan kepentingan bisnis raksasa Apple di Tiongkok dengan sensitivitas para politisi di negara asalnya.
Cook juga berhasil membangun hubungan baik dengan Presiden Trump, yang berujung pada berbagai keputusan regulasi yang menguntungkan Apple. Hebatnya, semua ini dicapai tanpa mengorbankan basis karyawan dan pelanggan setia Apple yang dikenal kritis.
Namun, tugas ini seringkali menempatkan Cook dalam posisi yang dilematis. Contohnya pada tahun 2019, ia mendampingi Presiden Trump mengunjungi sebuah pabrik perakitan di Texas.
Saat itu, Trump dengan bangga mengklaim bahwa kebijakannya berhasil mendorong Apple untuk membangun pabrik baru di Amerika Serikat. Padahal, fakta menunjukkan pabrik tersebut sudah beroperasi lama, dan pernyataan presiden dianggap sebagai upaya menyesatkan publik.
Setahun sebelumnya, Cook juga tertangkap kamera memberikan hadiah simbolis kepada Trump, yaitu kaca tahan banting berlapis emas 24 karat buatan perusahaan Amerika, Corning.
Tak lama berselang, Cook kembali menuai kritik dari kalangan yang tidak mendukung Trump. Ia kedapatan menghadiri acara nonton bareng film dokumenter istri Presiden di Gedung Putih. Acara ini dianggap tidak etis, terutama karena bertepatan dengan tewasnya seorang pengunjuk rasa di Minneapolis akibat tindakan agen federal.
Hasil Manis di Balik Sikap Kompromi
Bagi Apple, pengorbanan Tim Cook, termasuk tampil dalam situasi yang canggung dan kerap menjadi sasaran kritik di dunia maya, ternyata membuahkan hasil yang signifikan. Berkat keluwesannya dalam bernegosiasi, produk iPhone sempat mendapatkan pengecualian dari kebijakan tarif pada periode awal kepemimpinan Trump.
Menariknya, pada periode kedua pemerintahan Trump, produk ponsel pintar andalan Apple kembali berhasil lolos dari pemberlakuan beberapa kebijakan tarif pajak baru. Meskipun Trump pernah keliru menyebut namanya menjadi "Tim Apple", ia tak ragu melontarkan pujian dan bahkan mengundang Cook ke acara pelantikannya.
Namun, kemampuan negosiasi Cook tidak selalu berhasil meluluhkan hati para pembuat kebijakan. Di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, Departemen Kehakiman melayangkan gugatan antimonopoli besar terhadap Apple, yang prosesnya masih berlangsung hingga kini.
Apple juga tidak sepenuhnya terhindar dari dampak kebijakan tarif baru yang berpotensi membebani perusahaan hingga miliaran dolar Amerika Serikat hanya dalam satu kuartal.
Kini, kursi CEO Apple secara resmi telah diduduki oleh John Ternus. Perusahaan raksasa teknologi ini tampaknya harus bersiap menghadapi berbagai tantangan kebijakan baru yang tak kalah berat. Isu-isu seperti regulasi kecerdasan buatan dan pembatasan usia pengguna di toko aplikasi menjadi beberapa contohnya.
Untungnya bagi Ternus, sang mentor, Tim Cook, akan tetap berada di garis depan. Ia akan berperan sebagai benteng pertahanan politik yang andal bagi Apple, sebagaimana dilaporkan oleh The Verge dan dikutip oleh detikINET pada Selasa, 21 April 2026.









Tinggalkan komentar