Foto Indah Bumi dari Bulan Sorot Ancaman Sains NASA

11 April 2026

3
Min Read

Gambar memesona Planet Bumi yang diambil dari orbit Bulan oleh para astronot NASA, dalam misi bersejarah Artemis 2, seharusnya menjadi pengingat akan keindahan dan kerapuhan rumah kita. Namun, di balik keajaiban visual tersebut, tersembunyi realitas pahit yang mengancam masa depan sains dan eksplorasi antariksa.

Misi Artemis 2, yang membawa empat astronot mengitari sisi jauh Bulan sebelum kembali ke Bumi, sukses mengirimkan foto-foto spektakuler. Pemandangan Planet Biru yang terapung di kegelapan angkasa, kontras dengan permukaan Bulan yang tandus, sejatinya mampu membangkitkan kekaguman sekaligus kesadaran mendalam. Momen ini seharusnya menjadi panggilan untuk merenungkan rapuhnya eksistensi manusia, terutama di tengah ancaman krisis iklim global dan berbagai tantangan lingkungan lainnya.

Namun, seperti yang diungkapkan oleh Kate Marvel, mantan ilmuwan di Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA, dalam esainya di New York Times, keindahan gambar tersebut dibayangi oleh kebijakan yang dianggap bermusuhan dengan sains. Ia menyoroti bagaimana pemerintahan Donald Trump dituding secara sistematis membongkar institusi penelitian dan menyingkirkan ribuan ilmuwan.

Marvel berpendapat bahwa perbedaan mencolok terlihat sejak kunjungan terakhir manusia ke Bulan pada tahun 1972. "Begitu pula dengan NASA," tulisnya, "Pemotongan anggaran, kekacauan, dan campur tangan politik kini mengancam inti ilmu pengetahuan yang memotivasi dan memungkinkan eksplorasi luar angkasa." Pengalaman pribadi Marvel semakin menguatkan pandangannya.

Serangan terhadap sains yang dirasakan Marvel bukan sekadar anekdot. Sebuah laporan dari Komite Senat AS pada tahun 2025 menyimpulkan bahwa NASA telah bertindak prematur dan ilegal dengan mengadopsi usulan anggaran tahun 2026 dari pemerintahan Trump yang kontroversial. Tindakan ini dilakukan jauh sebelum Kongres memiliki kesempatan untuk memberikan persetujuan resmi.

Meskipun para pembuat undang-undang akhirnya memutuskan untuk mempertahankan sebagian besar anggaran NASA pada Januari lalu, bayang-bayang pemotongan dan penolakan terhadap perubahan iklim terus membayangi. Fenomena ini memicu eksodus besar-besaran para ilmuwan. Lebih dari 10.000 pakar sains bergelar doktor dilaporkan meninggalkan pekerjaan mereka tahun lalu, sebuah peristiwa yang disebut sebagai eksodus cendekiawan lintas lembaga skala nasional.

Situasi semakin memprihatinkan ketika Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) Gedung Putih merilis usulan anggaran tahun 2027 untuk NASA. Rilis ini dilakukan hanya dua hari setelah misi Artemis 2 diluncurkan. Usulan tersebut secara mengejutkan mengusulkan pemangkasan drastis pada direktorat sains, dengan angka pengurangan anggaran mencapai 47 persen. Proposal ini sontak menimbulkan keterkejutan di kalangan komunitas ilmiah dan para pembuat undang-undang.

Kate Marvel membenarkan adanya serangan terhadap sains yang ia saksikan langsung. Ia memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di NASA dua minggu sebelum wawancara ini, dengan tegas menyatakan dalam surat pengunduran dirinya bahwa ia ingin "mengatakan yang sebenarnya". "Menjelang bulan Maret ini, kekacauan terjadi terus-menerus dan serangan terhadap pekerjaan kami semakin meningkat. Saat itulah saya tahu sudah waktunya untuk pergi," ungkapnya.

Bagi Marvel, penelitian lingkungan seharusnya tidak terseret dalam pusaran politik. "Tugas kami adalah mempelajari hukum fisika, yang akan tetap benar tidak peduli siapa pun yang berkuasa," tegasnya, seperti dikutip dari Futurism. Pernyataannya menekankan bahwa sains seharusnya beroperasi di atas kepentingan politik sesaat.

Pemerintahan Trump sebelumnya telah menunjukkan indikasi penolakan terhadap isu-isu lingkungan. Terdapat upaya untuk menghentikan misi-misi satelit yang fokus pada pemantauan perubahan iklim. Bahkan, dalam laporan tahunan terbaru mengenai suhu global, semua penyebutan mengenai perubahan iklim dihilangkan.

Marvel berpandangan bahwa menolak pemahaman mendalam tentang Bumi dan dinamika iklimnya sama saja dengan melakukan sabotase terhadap diri sendiri. "NASA sedang mencekik saluran ilmiah dan mengurangi kemampuan kita untuk melihat dan memahami planet kita," tegasnya. Ia menutup pernyataannya dengan sebuah kritik yang tajam: "Tanpa sains, gambar-gambar menakjubkan Bumi dari luar angkasa hanya sekadar foto cantik. Kita semua berhak mendapatkan hal yang jauh lebih dari itu." Pesan ini menyiratkan bahwa potensi penuh dari eksplorasi antariksa dan pemahaman ilmiah tentang Bumi terancam jika dukungan terhadap sains terus terkikis.

Tinggalkan komentar


Related Post