Meta Description: Gairah AI dongkrak pendapatan industri chip hingga Rp 5.120 triliun di 2025. Simak peran TSMC dan inovasi Foundry 2.0.
Jakarta – Industri pembuatan chip global mencatat lonjakan pendapatan fenomenal sebesar USD 320 miliar, atau setara dengan Rp 5.120 triliun, pada tahun 2025. Angka fantastis ini merupakan bukti nyata geliat pesat sektor semikonduktor, yang ditopang oleh permintaan luar biasa untuk chip kecerdasan buatan (AI) dan kemajuan teknologi pengemasan canggih.
Lembaga riset terkemuka, Counterpoint Research, memperkenalkan konsep “Foundry 2.0” untuk menggambarkan kompleksitas lanskap industri manufaktur chip saat ini. Model baru ini mencerminkan evolusi dari bisnis pembuatan chip tradisional menjadi ekosistem yang lebih terintegrasi, meliputi desain, manufaktur, hingga pengemasan.
Pertumbuhan pendapatan industri foundry chip mencapai 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah pencapaian impresif yang didominasi oleh pemain-pemain besar. Laporan “Global Foundry 2.0” yang baru saja dirilis mengungkapkan bahwa inovasi dan kebutuhan pasar yang terus berkembang telah mendorong sektor ini ke level baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gairah AI Dongkrak Pendapatan Industri Chip
Permintaan tinggi terhadap chip yang mendukung kecerdasan buatan menjadi motor penggerak utama di balik lonjakan pendapatan industri foundry chip. Akselerator AI, yang menjadi tulang punggung berbagai aplikasi AI mulai dari analisis data hingga pembelajaran mesin, terus dibutuhkan dalam jumlah besar.
Selain itu, kemajuan dalam proses pengemasan chip juga memainkan peran krusial. Teknologi pengemasan canggih memungkinkan integrasi komponen yang lebih padat dan efisien, sehingga meningkatkan kinerja chip secara keseluruhan.
Kombinasi kedua faktor ini telah menciptakan pasar yang sangat dinamis dan menguntungkan bagi para produsen semikonduktor di seluruh dunia.
TSMC Pimpin Pasar dengan Pertumbuhan 36 Persen
Dalam laporan tersebut, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) kembali mengukuhkan posisinya sebagai pemain foundry murni terbesar di dunia. Perusahaan asal Taiwan ini berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang luar biasa sebesar 36 persen secara tahunan pada 2025.
TSMC memproduksi chip untuk sebagian besar perusahaan teknologi raksasa global, termasuk Apple, Nvidia, dan AMD. Kapasitas produksinya yang canggih dan teknologi mutakhir menjadikannya mitra pilihan bagi banyak inovator teknologi.
Bahkan, TSMC dilaporkan menghadapi tantangan kapasitas produksi yang signifikan akibat permintaan yang terus melonjak dari para pelanggannya. Situasi ini menunjukkan betapa vitalnya peran TSMC dalam rantai pasok semikonduktor global.
Foundry Lainnya Tunjukkan Pertumbuhan Moderat
Sementara TSMC mendominasi, pemain foundry murni lainnya juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan yang lebih moderat, yaitu sebesar 8 persen pada 2025. Beberapa vendor asal Tiongkok mencatatkan hasil yang cukup memuaskan, didorong oleh upaya lokalisasi domestik yang semakin gencar.
Laporan Counterpoint Research juga menyoroti kinerja positif dari perusahaan Outsourced Semiconductor Assembly and Test (OSAT). Sektor OSAT mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 10 persen, seiring dengan peningkatan permintaan untuk pengujian solusi silikon baru yang berfokus pada beban kerja AI.
Perusahaan OSAT kini berperan penting dalam menyerap sebagian permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh TSMC, terutama dalam hal pengujian chip-chip inovatif untuk AI.
Samsung Berharap Naik Panggung di 2026
Samsung Electronics, yang menduduki posisi kedua setelah TSMC dalam industri foundry, mengalami tahun yang cukup berfluktuasi pada 2025. Namun, Counterpoint Research memprediksi raksasa teknologi asal Korea Selatan ini akan mengalami peningkatan signifikan pada 2026.
Proyeksi positif ini didasarkan pada upaya diversifikasi yang dilakukan Samsung, termasuk perolehan desain bernilai tinggi. Selain itu, permintaan untuk node manufaktur 4nm milik Samsung dilaporkan sangat kuat, menandakan potensi pertumbuhan yang besar di masa depan.
Foundry asal Tiongkok seperti SMIC yang tumbuh 16 persen dan Nexchip yang naik 24 persen juga diprediksi akan terus berkembang pada tahun 2026, seiring dengan tren peningkatan kapasitas produksi domestik di Tiongkok.
Model Foundry 2.0: Integrasi dan Efisiensi
Konsep Foundry 2.0 yang diperkenalkan oleh Counterpoint Research menandai pergeseran fundamental dalam industri manufaktur chip. Model ini tidak lagi sekadar fokus pada proses produksi semata, melainkan menuju ekosistem yang lebih terintegrasi.
Hal ini mencakup keselarasan yang lebih erat antara tahap desain chip, proses manufaktur, hingga tahapan pengemasan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi pada tingkat sistem secara keseluruhan.
Selain itu, model Foundry 2.0 juga berupaya mengoptimalkan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO) bagi para pelanggan di seluruh dunia. Dengan integrasi yang lebih baik, diharapkan biaya produksi dan operasional dapat ditekan secara signifikan.
Teknologi pengemasan tingkat lanjut (advanced packaging) diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pesat, diperkirakan mencapai 80 persen pada tahun 2026. Inovasi dalam pengemasan menjadi kunci untuk membuka potensi penuh dari chip-chip berkinerja tinggi, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan daya komputasi masif seperti AI.
Perkembangan pesat ini menunjukkan bahwa industri foundry chip bukan hanya sektor teknologi yang vital, tetapi juga pendorong utama inovasi di berbagai bidang. Dengan tren yang terus positif, masa depan industri ini diprediksi akan semakin cerah dan penuh dengan terobosan baru.








Tinggalkan komentar