Kebiasaan Pegang HP Bisa Ungkap Status Finansial Seseorang

1 April 2026

8
Min Read

Sebuah video viral di Instagram memicu perdebatan mengenai kebiasaan memegang gawai yang diklaim dapat membedakan antara orang kaya sungguhan dan yang bukan. Konsep ini dilontarkan oleh seorang kreator konten bernama Jamie, yang berpendapat bahwa kecanduan terhadap layar gawai, terutama fenomena doomscrolling, justru menunjukkan seseorang yang tengah berjuang dan bukan menikmati kemewahan hidup.

Jamie menjelaskan bahwa banyak orang, termasuk dirinya, merasa perlu untuk terus menerus menggulir layar gawai karena pikiran yang terlalu penuh dan kebutuhan untuk beristirahat. Namun, ia mengamati bahwa kebiasaan doomscrolling ini lebih sering dilakukan oleh individu yang terlalu banyak bekerja hingga mengalami kelelahan ekstrem atau burnout. Kondisi ini, menurutnya, menandakan bahwa mereka tidak sedang menjalani kehidupan yang serba mewah dan santai.

Pernyataan Jamie ini cukup menarik perhatian, terutama di kalangan pengguna media sosial yang sering kali terjebak dalam siklus konsumsi konten digital. Ia melanjutkan argumennya dengan membandingkan pola asuh anak-anak dari kalangan berpenghasilan tinggi. "Orang-orang yang menghasilkan lebih banyak uang, lebih kaya, lebih makmur… Anda tidak melihat mereka atau anak-anak mereka menjadi anak-anak yang kecanduan iPad," ujarnya.

Ia mengamati bahwa anak-anak dari keluarga yang lebih makmur cenderung diarahkan pada berbagai aktivitas pengembangan diri dan minat. Hal ini berbanding terbalik dengan anak-anak yang dianggap terlalu bergantung pada teknologi. "Anak-anak yang tumbuh dengan baik bukanlah anak-anak yang terlalu bergantung pada teknologi," tegasnya.

Logika di balik argumen Jamie cukup masuk akal, terutama dalam konteks ekonomi global yang kian menantang. Ketika banyak orang harus bekerja ekstra keras demi memenuhi kebutuhan hidup, layar gawai seringkali menjadi pelarian instan dari tekanan dan stres yang dihadapi. Fenomena ini diperparah dengan desain aplikasi media sosial yang memang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama.

Keunikan pandangan Jamie ini rupanya disambut baik oleh banyak warganet di kolom komentar unggahan video tersebut. Banyak yang merasa pendapat tersebut merefleksikan pengamatan mereka sehari-hari. Salah satu komentar menarik menyatakan, "Ketika saya menyadari bahwa ‘anak-anak iPad’ adalah masalah kelas sosial, saya berhenti mengkritik orang tua mereka." Pernyataan ini menyoroti bagaimana akses terhadap waktu luang dan sumber daya untuk aktivitas non-digital bisa menjadi penanda status ekonomi.

Komentar lain juga menyoroti sifat paradoks dari kebiasaan scrolling. "Sangat menarik karena meskipun dianggap sebagai cara bersantai dan mewah, ini adalah bentuk relaksasi yang sangat melelahkan/beracun," tulis seorang pengguna. Pandangan ini menggarisbawahi bahwa meskipun sering diasosiasikan dengan gaya hidup santai, menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar justru dapat menguras energi dan pikiran.

Bahkan, ada pula yang secara gamblang menghubungkan doomscrolling dengan tingkat kesejahteraan. "Para miliarder tidak melakukan doomscrolling karena mereka tidak menghadapi malapetaka yang nyata," klaim warganet lain. Pernyataan ini menyiratkan bahwa orang-orang yang berada di puncak kesuksesan finansial mungkin memiliki perspektif yang berbeda terhadap tantangan hidup, sehingga mengurangi dorongan untuk mencari pelarian digital.

Terlepas dari siapa yang melakukannya, para ahli kesehatan sepakat bahwa doomscrolling adalah kebiasaan yang berpotensi merusak kesehatan, terutama jika dilakukan menjelang waktu tidur. Rachel Beard, seorang ahli yang dikutip oleh news.com.au, menjelaskan bagaimana platform media sosial sengaja dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian pengguna.

"Situs media sosial ini dirancang untuk menarik Anda ke aplikasi dan kemudian membuat Anda tetap di sana," ujar Beard. Ia menambahkan bahwa keputusan untuk terus menggulir layar, baik di media sosial maupun menonton televisi, seringkali dilakukan dengan mengorbankan jam tidur yang berharga.

"Jadi, pada saat waktu tidur tiba, orang-orang membuat keputusan yang disengaja untuk mengorbankan atau menunda tidur untuk menggulir layar ponsel mereka atau menonton TV. Ini berarti mengorbankan tidur sepanjang hari," lanjutnya, sebagaimana dikutip oleh detikINET dari The Post.

Dampak Psikologis Doomscrolling

Fenomena doomscrolling, atau kecanduan menggulir konten negatif di media sosial, telah menjadi perhatian serius para psikolog. Kebiasaan ini bukan hanya sekadar membuang waktu, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental. Ketika seseorang terus-menerus terpapar berita buruk, ketidakpastian, atau konflik, otak akan melepaskan hormon stres seperti kortisol.

Paparan kronis terhadap stres dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga penurunan kemampuan kognitif. Pikiran yang dipenuhi informasi negatif dapat membuat seseorang merasa putus asa, tidak berdaya, dan kehilangan optimisme terhadap masa depan. Ini adalah siklus yang sulit diputus, karena rasa cemas justru mendorong individu untuk mencari lebih banyak informasi, meskipun informasi tersebut bersifat merusak.

Dalam konteks video viral Jamie, kebiasaan doomscrolling ini menjadi indikator utama. Seseorang yang terus-menerus mencari berita buruk atau konten yang memicu emosi negatif mungkin sedang berupaya memproses perasaan negatif yang sudah ada dalam dirinya. Namun, bukannya menyelesaikan masalah, kebiasaan ini justru memperburuk keadaan.

Mengapa Orang Kaya Mungkin Menghindari Doomscrolling?

Pernyataan Jamie bahwa orang kaya tidak terlihat melakukan doomscrolling dapat dikaitkan dengan beberapa faktor. Pertama, mereka mungkin memiliki lebih banyak sumber daya dan dukungan untuk mengatasi masalah hidup. Ini bisa berarti memiliki akses ke konsultan keuangan, terapis, atau jaringan profesional yang dapat membantu menyelesaikan tantangan tanpa harus mencari pelarian digital.

Kedua, kesuksesan finansial seringkali dicapai melalui fokus, disiplin, dan perencanaan jangka panjang. Individu yang berhasil membangun kekayaan cenderung memiliki pola pikir yang proaktif, bukan reaktif. Mereka lebih memilih untuk menggunakan waktu mereka untuk aktivitas produktif, pengembangan diri, atau menikmati hasil kerja keras mereka, daripada tersedot ke dalam konsumsi konten pasif dan seringkali meresahkan.

Ketiga, pola asuh yang disebutkan Jamie juga berperan. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang kaya akan stimulasi positif, kegiatan edukatif, dan interaksi sosial yang berkualitas cenderung mengembangkan ketahanan mental dan keterampilan yang lebih baik dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak bergantung pada gawai sebagai satu-satunya sumber hiburan atau pelarian.

Burnout dan Hubungannya dengan Gaya Hidup

Istilah burnout merujuk pada kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan, terutama di tempat kerja. Jamie mengaitkan doomscrolling dengan individu yang mengalami burnout karena terlalu banyak bekerja. Hal ini masuk akal karena ketika seseorang merasa terkuras energinya, ia cenderung mencari cara termudah untuk merasa terhibur atau teralihkan.

Media sosial, dengan algoritma yang dirancang untuk memanjakan pengguna dengan konten yang relevan secara instan, menawarkan pelarian yang sangat mudah dijangkau. Namun, seperti yang disoroti oleh para ahli, pelarian ini bersifat sementara dan justru dapat memperparah rasa lelah.

Orang yang mengalami burnout mungkin merasa tidak memiliki energi atau motivasi untuk terlibat dalam aktivitas yang membutuhkan usaha lebih, seperti berolahraga, membaca buku fisik, atau bersosialisasi secara langsung. Menggulir layar ponsel menjadi pilihan yang paling tidak menuntut.

Kondisi ini juga bisa menjadi indikator bahwa gaya hidup seseorang tidak berkelanjutan. Seseorang yang terus-menerus berada dalam mode "bertahan hidup" dan bekerja tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan dasar mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menikmati aspek-aspek kehidupan yang lebih mewah atau memuaskan.

Perspektif Kelas Sosial dan Teknologi

Video viral Jamie secara implisit menyentuh diskusi tentang kelas sosial dan teknologi. Argumen bahwa "anak-anak iPad" adalah masalah kelas sosial menunjukkan bagaimana akses terhadap waktu, sumber daya, dan lingkungan yang berbeda dapat memengaruhi cara anak-anak berinteraksi dengan teknologi.

Di kalangan keluarga berpenghasilan menengah ke bawah yang mungkin berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang tua mungkin terpaksa membiarkan anak-anak mereka menggunakan gawai sebagai pengasuh sementara agar mereka dapat bekerja atau menyelesaikan tugas rumah tangga. Keterbatasan waktu dan sumber daya membuat sulit untuk menyediakan alternatif kegiatan yang kaya dan mendidik.

Sebaliknya, keluarga kaya mungkin memiliki lebih banyak waktu luang, dana, dan akses ke program ekstrakurikuler yang beragam. Mereka dapat mengarahkan anak-anak mereka ke aktivitas seperti les musik, olahraga, seni, atau program-program pengembangan diri lainnya yang tidak terlalu bergantung pada layar.

Pandangan ini memang bisa menjadi sensitif, karena dapat menimbulkan stigma. Namun, penting untuk diakui bahwa akses terhadap lingkungan yang mendukung perkembangan anak sangat bervariasi antar kelas sosial. Teknologi, dalam hal ini, dapat menjadi alat yang memperlebar jurang pemisah jika tidak digunakan secara bijak dan seimbang.

Tips Menghindari Kebiasaan Doomscrolling

Mengingat dampak negatif dari doomscrolling, penting bagi kita untuk mengembangkan strategi untuk mengatasinya. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

  • Tetapkan Batasan Waktu: Gunakan fitur pengaturan waktu layar pada ponsel Anda atau aplikasi pihak ketiga untuk membatasi waktu penggunaan media sosial.
  • Jadwalkan Waktu Bebas Gawai: Tentukan periode waktu tertentu setiap hari di mana Anda benar-benar tidak menyentuh gawai, terutama sebelum tidur dan saat makan.
  • Cari Alternatif Aktivitas: Ganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan, seperti membaca buku, berolahraga, meditasi, atau menekuni hobi.
  • Kurangi Notifikasi: Matikan notifikasi yang tidak penting dari aplikasi media sosial untuk mengurangi godaan untuk terus-menerus memeriksa ponsel.
  • Fokus pada Konten Positif: Ikuti akun atau sumber informasi yang memberikan konten inspiratif, edukatif, atau menghibur secara positif.
  • Sadari Pemicunya: Perhatikan kapan Anda paling sering merasa ingin doomscroll. Apakah saat merasa cemas, bosan, atau kesepian? Cobalah atasi akar masalahnya.
  • Edukasi Diri Sendiri: Pahami dampak buruk doomscrolling terhadap kesehatan mental dan fisik Anda. Kesadaran adalah langkah awal untuk perubahan.

Pada akhirnya, kebiasaan memegang gawai memang bisa menjadi cerminan gaya hidup, namun bukan satu-satunya penentu. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola penggunaan teknologi agar tidak mengorbankan kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup kita secara keseluruhan.

Tinggalkan komentar


Related Post