Washington D.C. – Sebuah kelompok peretas yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah Iran, bernama Handala, mengklaim telah berhasil membobol akun email pribadi Kash Patel, Direktur Biro Investigasi Federal (FBI). Pengumuman mengejutkan ini disampaikan pada Jumat lalu melalui situs resmi kelompok tersebut.
Bersamaan dengan klaim peretasan, Handala turut merilis sejumlah foto Patel yang tampak lebih muda. Mereka juga menyertakan tautan yang mengarah pada kumpulan berkas data yang diklaim berasal dari akun Gmail pribadi sang Direktur FBI.
FBI tidak membantah insiden tersebut. Juru bicara lembaga penegak hukum Amerika Serikat ini mengonfirmasi kepada media bahwa mereka menyadari adanya upaya jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel. Pihak FBI menegaskan telah mengambil langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi potensi risiko yang timbul.
Penting untuk dicatat, juru bicara FBI menekankan bahwa data yang dipermasalahkan bersifat historis. Informasi tersebut tidak terkait dengan data atau operasi pemerintah Amerika Serikat saat ini.
Verifikasi Independen Menguatkan Klaim Peretas
Media berita teknologi, TechCrunch, melakukan investigasi independen untuk memverifikasi klaim Handala. Hasilnya, setidaknya sebagian dari email yang dibocorkan oleh kelompok peretas tersebut memang terbukti berasal dari akun Gmail milik Kash Patel.
Proses verifikasi ini melibatkan pemeriksaan mendalam terhadap "message headers". Header email merupakan metadata yang disematkan oleh pengirim, berfungsi sebagai penanda otentisitas dan panduan bagi sistem pengiriman email.
Dengan menggunakan alat khusus, para investigator memeriksa sejumlah email yang ada dalam kumpulan data bocoran. Temuan mereka menunjukkan bahwa email-email yang dikirim oleh Patel dari akun Gmail pribadinya memiliki tanda tangan kriptografis yang sesuai. Hal ini memperkuat dugaan bahwa email-email tersebut memang asli.
Lebih lanjut, analisis mengungkap bahwa dalam beberapa kasus, Patel mengirimkan email dari alamat email lamanya yang terdaftar di Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat, tertanggal sekitar tahun 2014, ke akun Gmail pribadinya. Email dari akun DOJ ini juga telah diverifikasi dan dinyatakan autentik. Data yang bocor ini diperkirakan mencakup periode hingga sekitar tahun 2019.
Laporan awal mengenai insiden ini pertama kali diungkap oleh Reuters, yang mengutip konfirmasi dari seorang pejabat Departemen Kehakiman mengenai adanya pelanggaran data. Hingga berita ini diturunkan, Departemen Kehakiman belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari berbagai media.
Perburuan Peretas Handala Meningkat, Imbalan Besar Ditawarkan
Menyikapi insiden peretasan ini, FBI meningkatkan upaya untuk menangkap pelaku. Lembaga tersebut mengumumkan penawaran hadiah sebesar 10 juta dolar AS, atau setara dengan Rp163 miliar, bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi berharga mengenai kelompok peretas Handala.
Langkah ini merupakan penekanan hukum yang signifikan terhadap kelompok tersebut. Sebelumnya, FBI telah berhasil menyita sejumlah situs web yang digunakan oleh Handala. Namun, kelompok peretas ini terbukti lincah dan dengan cepat kembali beroperasi menggunakan domain-domain baru.
Jaksa penuntut Amerika Serikat secara resmi menuduh Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS) sebagai pihak yang berada di balik operasional kelompok Handala.
Kelompok Handala memang dikenal sebagai peretas yang memiliki kaitan erat dengan pemerintah Iran. Aktivitas mereka dilaporkan mengalami peningkatan tajam sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memanas pada awal Februari lalu.
Sebelumnya, Handala juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber yang merusak terhadap Stryker, sebuah perusahaan teknologi medis terkemuka asal Amerika Serikat. Serangan tersebut mengakibatkan terhapusnya data dari puluhan ribu perangkat karyawan perusahaan tersebut. Handala juga diketahui telah mempublikasikan data pribadi sejumlah individu yang diidentifikasi sebagai anggota Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan kontraktor pertahanan lokal.
Baik melalui akun obrolan di situs web mereka maupun alamat email yang pernah dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman AS, Handala tidak memberikan tanggapan atas upaya permintaan komentar dari TechCrunch.
Media yang sama juga mencoba menghubungi Kash Patel melalui alamat Gmail yang terungkap dalam kebocoran data, serta melalui pesan teks ke nomor ponsel yang tercantum dalam sebuah resume yang diklaim miliknya. Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada respons yang diterima.









Tinggalkan komentar