Jakarta – Kasus tragis seorang ayah di Islandia yang kehilangan hak asuh atas anaknya akibat perbedaan pandangan mengenai transisi gender sang anak kini mendapat sorotan dari tokoh teknologi dunia, Elon Musk. Alexandre Rocha, seorang warga Prancis yang telah lama menetap di Islandia, terpaksa berpisah dari buah hatinya setelah pengadilan memutuskan hak asuh jatuh ke tangan ibunya. Keputusan ini diambil setelah Rocha menyuarakan kekhawatiran mendalamnya mengenai intervensi medis yang dialami anaknya.
Rocha mengungkapkan kepada Fox News Digital bahwa ia meyakini hakim tidak berpihak padanya karena ia berani mempertanyakan dampak jangka panjang dari penggunaan puberty blockers (penghambat pubertas) dan terapi hormon. Bagi Rocha, tindakan medis ini terhadap anak yang belum sepenuhnya memahami konsekuensinya adalah sebuah bentuk pelecehan. "Seharusnya itu adalah kejahatan," tegasnya, merujuk pada intervensi medis tersebut.
Ia melanjutkan, "Anda melecehkan anak-anak, mengebiri seorang anak laki-laki, seperti dalam kasus anak saya. Ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah ideologi yang tidak memiliki tempat untuk anak-anak." Kekhawatiran utama Rocha adalah ketidakmampuan anaknya yang saat itu berusia 10 tahun untuk memahami implikasi permanen dari perubahan identitas gender. Ia juga menyoroti potensi dampak psikologis yang signifikan akibat perpisahan dengan orang tuanya, terlebih lagi anaknya baru saja didiagnosis menderita autisme.
"Bagi saya, kekhawatiran adalah jangka panjang. Akankah mereka tetap bahagia empat tahun dari sekarang, atau enam tahun lagi, setelah mengonsumsi obat penghambat hormon dan lebih banyak hormon? Apakah ini benar-benar memperbaiki akar masalahnya — tantangan atau kesulitan mental, apa pun yang mereka alami?" tanyanya dengan nada prihatin.
Meskipun diagnosis gangguan spektrum autisme pada anaknya baru diberikan delapan bulan sebelum persidangan, Rocha merasa bahwa pengadilan dan para profesional medis cenderung mengabaikan temuan tersebut. Ia mencatat bahwa anak-anak yang berada dalam spektrum autisme seringkali mengalami kesulitan dalam merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, yang terkadang memunculkan keinginan untuk menjadi sesuatu yang lain.
Sebagai contoh, Rocha menceritakan bahwa anaknya terkadang merasa senang berperan sebagai kucing, bahkan menggunakan atribut seperti ekor atau telinga kucing. Namun, ketika kekhawatiran ini ia sampaikan di pengadilan, Rocha merasa bahwa seorang ahli endokrinologi di Islandia mengabaikannya begitu saja. Dokter tersebut, menurut Rocha, menjamin bahwa obat hormon tidak akan menimbulkan masalah dan menolak untuk menggali lebih dalam faktor kesehatan mental yang mendasarinya.
Kabar terbaru yang diterima Rocha pada Februari lalu adalah bahwa ibu dari anaknya secara resmi telah mengubah nama putranya menjadi nama perempuan. Perubahan ini secara implisit tercatat dalam kartu identitas anak tersebut, yang kini secara resmi menyatakan identitas gendernya sebagai perempuan.
Kisah tragis Rocha ini tak luput dari perhatian internasional. Melalui linimasa media sosialnya, Elon Musk, CEO Tesla yang dikenal vokal dalam menyuarakan pandangannya mengenai isu transgender, turut memberikan dukungan. Musk sendiri memiliki pengalaman pribadi terkait hal ini, di mana putranya, Xavier, yang kini menggunakan nama Vivian Jenna Wilson, telah bertransisi menjadi perempuan. Musk pernah mengungkapkan bahwa ia merasa "ditipu" untuk menyetujui penggunaan puberty blockers oleh putranya sebelum ia sepenuhnya memahami situasinya.
Menanggapi unggahan tentang kisah Rocha di akun X populer @libsoftiktok, Musk berkomentar, "Woke mind virus bahkan memengaruhi Islandia." Komentar ini menunjukkan dukungannya terhadap pandangan Rocha dan keprihatinannya terhadap apa yang ia anggap sebagai pengaruh ideologi tertentu yang dinilainya merusak.
Rocha sendiri mengaku terkejut dan merasa terhormat atas perhatian yang diberikan oleh Elon Musk. Ia merasa lega mengetahui bahwa ia dan Musk sama-sama tengah memperjuangkan isu yang serupa. "Karena pada akhirnya, kita semua adalah orang tua, terlepas dari batas negara atau kewarganegaraan," ungkapnya, menyiratkan adanya ikatan universal dalam peran orang tua.
Hingga berita ini ditulis, Elon Musk belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Fox News Digital. Sementara itu, Rocha mengungkapkan kerinduannya yang mendalam terhadap momen-momen sederhana bersama putranya. Ia mengaku belum bertemu sang anak sejak Januari, dan sangat merindukan kegiatan seperti membacakan cerita sebelum tidur atau memasak bersama. Rocha mengenang dengan nostalgia saat-saat ia menikmati menonton film-film Steven Spielberg era 1990-an, seperti ‘Jurassic Park’, bersama putranya. Kasus ini membuka diskusi penting mengenai hak orang tua, intervensi medis pada anak, dan kompleksitas isu identitas gender dalam kerangka hukum dan keluarga.









Tinggalkan komentar