JAKARTA – Momen Idulfitri identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Mohammad Zaki Ubaidillah, atau yang akrab disapa Ubed, perayaan hari raya kali ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, Ubed harus merayakan Lebaran jauh dari pelukan keluarga tercinta karena kesibukan profesionalnya di kancah internasional.
Keputusan ini diambil demi mengejar ambisi dan meningkatkan peringkatnya di dunia bulu tangkis. Ubed saat ini tengah berjuang di Eropa untuk mengikuti serangkaian turnamen bergengsi yang jadwalnya berbenturan langsung dengan perayaan Idulfitri. Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi sang atlet, namun ia menunjukkan profesionalisme dan dedikasi yang tinggi terhadap kariernya.
Dedikasi Atlet di Tengah Perayaan Keagamaan
Mohammad Zaki Ubaidillah, salah satu talenta muda kebanggaan Indonesia di cabang olahraga bulu tangkis, harus menunda sejenak tradisi Lebaran bersama keluarga. Keputusan ini diambil lantaran ia sedang menjalani jadwal padat turnamen BWF (Badminton World Federation) di benua Eropa. Perjalanan ke Eropa telah ia mulai sejak 7 Maret lalu.
Agenda Ubed di Eropa mencakup dua turnamen penting. Pertama adalah Swiss Open, yang telah rampung pada 15 Maret. Turnamen kedua adalah Orleans Masters di Prancis, yang masih berlangsung hingga 22 Maret. Ironisnya, penyelenggaraan kedua turnamen ini bertepatan langsung dengan momen perayaan Idulfitri, hari kemenangan umat Islam.
Akibatnya, Ubed dan rekan-rekan satu timnya dipastikan tidak dapat hadir di tengah keluarga untuk merayakan Idulfitri tahun ini. Pengorbanan ini tentu bukan hal yang mudah, namun menjadi konsekuensi logis dari pilihan karier sebagai atlet profesional di tingkat dunia.
Lebaran di Perantauan: Pengalaman Pertama di Turnamen
“Ya, Lebaran di Orleans. Ini Lebaran pertama pas lagi turnamen,” ungkap Ubed kepada awak media beberapa waktu lalu. Ia menambahkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia tidak merayakan Lebaran di rumah, namun pengalaman kali ini memiliki nuansa berbeda karena dilakukan di tengah kompetisi internasional.
Sebelumnya, Ubed pernah merasakan Lebaran jauh dari rumah saat masa pandemi COVID-19. Kala itu, ia berada di Kudus, Jawa Tengah, menjalani pemusatan latihan atau mungkin menjalani turnamen domestik yang terpaksa digelar tanpa kehadiran keluarga. Namun, kali ini, ia berada di negara asing, Prancis, berjuang demi nama bangsa.
Pengalaman ini tentu menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan kariernya. Momen sakral seperti Lebaran, yang biasanya diisi dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan hidangan khas keluarga, harus ia jalani di tengah atmosfer kompetisi yang penuh tekanan.
Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan Utama
Meskipun harus merayakan Idulfitri tanpa kehadiran fisik keluarga, Ubed mengungkapkan rasa syukurnya atas pengertian dan dukungan yang diberikan oleh keluarganya. Sebagai seorang atlet, ia memahami bahwa jadwal pertandingan seringkali tidak bisa diatur sesuai kalender hari raya.
“Saya sudah bicara dengan keluarga, menjelaskan bahwa saya tidak bisa Lebaran di rumah karena ada pertandingan. Ini penting untuk mengejar ranking dan persiapan untuk ke depannya di tahun ini,” ujar Ubed, yang juga merupakan juara Thailand Masters 2026. Pengakuan ini menunjukkan kedewasaan dan komunikasi yang baik antara Ubed dan keluarganya.
Respon keluarga ternyata sangat positif. Mereka memahami sepenuhnya situasi yang dihadapi Ubed. “Respons mereka ya sudah, enggak apa-apa. Nanti bisa video call juga,” tutur Ubed menirukan ucapan keluarganya.
Meski teknologi dapat menjembatani jarak, Ubed tetap mengakui ada kerinduan yang mendalam. “Paling yang dirindukan kumpul sama keluarganya, dan bisa makan bareng di rumah,” akunya. Momen-momen sederhana seperti makan bersama di meja makan keluarga adalah hal yang paling ia rindukan saat ini.
Tradisi THR: Beri atau Terima?
Pertanyaan menarik muncul terkait tradisi Tunjangan Hari Raya (THR). Di Indonesia, THR identik dengan pemberian dari atasan kepada bawahan atau orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Namun, dalam konteks Ubed, situasinya sedikit berbeda.
“Enggak ada, justru saya yang kasih (THR),” kelakar Ubed sambil tertawa. Ia menjelaskan bahwa sebagai atlet yang memiliki penghasilan, ia justru memiliki kewajiban dan kebahagiaan tersendiri untuk berbagi rezeki dengan keluarga.
“Ya kasih ke saudara, kadang ada anak-anak kecil begitu,” kata Ubed. Ini menunjukkan bahwa meskipun jauh dari rumah, semangat berbagi dan kepedulian terhadap keluarga tetap terjaga. Ia tetap berusaha menjalankan esensi Idulfitri, yaitu berbagi kebahagiaan dan rezeki.
Perjuangan Mengejar Mimpi di Panggung Dunia
Keputusan Ubed untuk tetap bertanding di Eropa saat Lebaran adalah bukti nyata dedikasinya terhadap bulu tangkis. Turnamen BWF Super 300 seperti Orleans Masters merupakan ajang penting untuk mengumpulkan poin peringkat dunia. Poin-poin ini krusial bagi setiap atlet untuk bisa lolos ke turnamen yang lebih besar, termasuk Olimpiade, serta meningkatkan status dan hadiah mereka.
Swiss Open dan Orleans Masters adalah dua dari sekian banyak turnamen yang menjadi batu loncatan bagi para atlet untuk mengasah kemampuan, mengukur kekuatan lawan, dan mendapatkan pengalaman bertanding di level internasional. Keikutsertaan dalam turnamen-turnamen ini membutuhkan persiapan fisik dan mental yang matang, serta komitmen waktu yang tidak sedikit.
Bagi Ubed, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mengorbankan momen berharga seperti Lebaran demi mengejar impian profesional adalah pilihan yang diambil dengan penuh kesadaran. Dukungan keluarga menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus berjuang di setiap pertandingan yang ia ikuti.
Konteks Atlet Profesional dan Pengorbanan
Kisah Ubed ini merefleksikan realitas yang dihadapi banyak atlet profesional di berbagai cabang olahraga. Kehidupan mereka seringkali diwarnai dengan jadwal yang padat, perjalanan jauh, dan pengorbanan pribadi. Momen-momen penting dalam kehidupan sosial dan keluarga kerap kali harus dilewatkan demi sebuah tujuan besar.
Pengorbanan seperti ini tidak hanya terjadi saat Lebaran, tetapi juga saat hari raya keagamaan lainnya, ulang tahun, atau acara keluarga penting. Atlet harus siap untuk berada jauh dari rumah selama berbulan-bulan, menjalani latihan intensif, dan menghadapi tekanan kompetisi yang tak kenal waktu.
Namun, di balik setiap pengorbanan, ada harapan dan kebanggaan. Kebanggaan membela negara, kebanggaan memberikan yang terbaik di setiap pertandingan, dan harapan untuk meraih prestasi tertinggi. Kisah Ubed ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap prestasi, ada kerja keras, dedikasi, dan pengorbanan yang luar biasa.
Semangat Juang Tetap Menyala
Meskipun jauh dari keluarga, semangat juang Ubed di lapangan dipastikan tetap menyala. Ia membawa nama Indonesia di setiap turnamen yang diikutinya. Pengalaman merayakan Lebaran di Prancis, meski tanpa keluarga, bisa jadi akan memberikannya perspektif baru dan motivasi tambahan untuk terus memberikan yang terbaik.
Komunikasi virtual melalui telepon video menjadi jembatan emosional yang menghubungkan Ubed dengan keluarganya. Percakapan singkat, ucapan maaf dan salam, serta berbagi cerita singkat dapat sedikit meredakan rasa rindu. Namun, kehangatan tatap muka dan pelukan keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa tergantikan.
Kisah Mohammad Zaki Ubaidillah ini bukan hanya tentang seorang atlet yang absen dari perayaan Lebaran. Ini adalah cerita tentang dedikasi, profesionalisme, dukungan keluarga, dan perjuangan seorang anak bangsa demi mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Selamat berjuang, Ubed! Semoga langkahmu di Orleans Masters semakin mantap dan membawa hasil terbaik.









Tinggalkan komentar