Di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah, muncul spekulasi mengenai peningkatan signifikan dalam kemampuan rudal Iran. Mantan pejabat intelijen Prancis, Alain Juillet, mengemukakan dugaan bahwa Iran mungkin telah mengadopsi sistem navigasi satelit canggih dari China, yaitu BeiDou, untuk meningkatkan presisi serangan terhadap sasaran militer Israel dan Amerika Serikat.
Keakuratan rudal Iran dalam serangan terbaru dilaporkan mengalami peningkatan drastis dibandingkan konflik sebelumnya. Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai teknologi pemandu yang digunakan. Alain Juillet, yang pernah menjabat sebagai direktur intelijen di Directorate General for External Security (GDES) Prancis, menyatakan bahwa ada kemungkinan Iran memperoleh akses ke sistem navigasi BeiDou.
"Salah satu kejutan dari perang ini adalah rudal Iran menjadi jauh lebih akurat dibandingkan delapan bulan lalu," ujar Juillet. "Ini memunculkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu rudal-rudal tersebut."
Meskipun Israel dan negara-negara di kawasan Teluk dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar rudal yang diluncurkan, beberapa di antaranya tetap berhasil menembus pertahanan. Sebelumnya, militer Iran sangat bergantung pada Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat. Namun, AS memiliki kemampuan untuk mengacak atau menolak akses ke sistem GPS bagi negara-negara yang dianggap sebagai musuh.
Ketergantungan pada GPS ini menjadi celah yang mungkin dimanfaatkan Iran dengan beralih ke sistem navigasi lain yang tidak dapat dikontrol oleh AS. Di sinilah peran BeiDou menjadi sangat krusial. Jika Iran benar-benar menggunakan BeiDou, AS akan kesulitan untuk mengganggu atau melumpuhkan sistem navigasi tersebut, mengingat BeiDou merupakan teknologi independen milik China.
Mengenal BeiDou: Pesaing GPS dari Negeri Tirai Bambu
Sistem Navigasi Satelit BeiDou (BDS) adalah inisiatif ambisius dari China yang diluncurkan sebagai pesaing langsung GPS milik Amerika Serikat. Peresmian sistem ini pada tahun 2020 oleh Presiden Xi Jinping menandai langkah strategis China dalam mengamankan kemandirian teknologi navigasi global. Pengembangan BeiDou didorong oleh kekhawatiran China pasca-krisis Taiwan pada tahun 1996, di mana mereka khawatir akses ke GPS dapat dibatasi oleh Washington.
Salah satu keunggulan BeiDou terletak pada jumlah satelit yang digunakannya. Data dari AJ Labs Al Jazeera menunjukkan bahwa sementara GPS AS mengoperasikan 24 satelit, BeiDou didukung oleh konstelasi 45 satelit. Sebagai perbandingan, sistem navigasi global lainnya seperti GLONASS milik Rusia dan Galileo milik Uni Eropa masing-masing memiliki 24 satelit.
Menurut informasi dari situs resmi BeiDou, sistem ini terdiri dari tiga segmen utama: segmen ruang angkasa, segmen darat, dan segmen pengguna. Akurasi yang ditawarkan oleh BeiDou bervariasi tergantung pada jenis layanan yang digunakan. Analis militer Elijah Magnier menjelaskan, sinyal sipil terbuka umumnya memberikan akurasi dalam kisaran lima hingga sepuluh meter. Namun, layanan terbatas yang ditujukan bagi pengguna resmi dapat mencapai tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.
Spekulasi Penggunaan BeiDou oleh Iran
Hingga saat ini, Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penggunaan sistem navigasi BeiDou. Selain itu, belum jelas pula apakah perpindahan operasional militer ke sistem navigasi satelit yang berbeda dapat dilakukan dalam waktu singkat, mengingat intensitas konflik dengan Israel dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, Alain Juillet berpendapat bahwa adopsi BeiDou merupakan penjelasan yang paling masuk akal untuk peningkatan akurasi rudal Iran secara drastis. "Target-target penting berhasil dihantam," tegasnya, mengindikasikan keberhasilan serangan yang lebih presisi.
Para ahli meyakini bahwa Iran sebenarnya telah mengintegrasikan sistem navigasi China ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Theo Nencini, seorang peneliti yang fokus pada hubungan China-Iran, mengungkapkan bahwa pada tahun 2015, Iran telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengintegrasikan BeiDou-2 ke dalam infrastruktur militernya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan pemandu rudal dengan memanfaatkan sinyal yang lebih akurat dibandingkan GPS sipil yang sebelumnya digunakan.
Implementasi ini dilakukan secara bertahap. Namun, prosesnya tampaknya mengalami percepatan setelah penandatanganan Kemitraan Strategis Sino-Iran pada Maret 2021. Pada saat itu, China diyakini memberikan Iran akses ke sinyal militer terenkripsi milik BeiDou.
"Sejak saat itu, militer Iran mulai mengintegrasikan BeiDou ke dalam sistem pemandu rudal dan drone mereka, serta ke jaringan komunikasi aman tertentu," ungkap Nencini. Peralihan ini menandakan upaya Iran untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan pada GPS AS. Iran diprediksi baru akan menyelesaikan transisi penuh ke BeiDou, termasuk untuk penggunaan sipil, pada Juni 2025.
Bagaimana BeiDou Meningkatkan Akurasi Rudal?
Sistem BeiDou memiliki potensi untuk memandu rudal balistik Iran dengan tingkat akurasi yang jauh lebih baik. Sistem navigasi China ini diyakini memiliki margin kesalahan kurang dari satu meter. Lebih lanjut, BeiDou mampu melakukan koreksi arah secara otomatis jika target bergerak, sebuah kemampuan krusial dalam skenario pertempuran modern.
"Ini secara signifikan lebih baik daripada apa yang dimungkinkan oleh sinyal GPS sipil, mengingat AS membatasi akses ke sinyal militernya yang terenkripsi bagi musuh-musuhnya," jelas Nencini kepada Al Jazeera, yang kemudian dikutip oleh detikINET.
Kemampuan BeiDou juga kemungkinan besar membantu Iran dalam mengakali sistem pengacakan sinyal yang umum digunakan oleh Israel. Patricia Marins, seorang analis militer, menekankan, "Tidak seperti sinyal GPS kelas sipil yang dapat dilumpuhkan, sinyal tingkat militer milik BDS-3 pada dasarnya tidak dapat diacak."
Selain keunggulan dalam akurasi dan ketahanan terhadap gangguan, BeiDou juga memungkinkan operator untuk berkomunikasi dengan drone atau rudal sejauh 2.000 kilometer saat mereka sedang dalam penerbangan. Hal ini membuka kemungkinan rudal dapat diarahkan ulang bahkan setelah diluncurkan, memberikan fleksibilitas strategis yang signifikan.









Tinggalkan komentar