Teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif, terutama yang mampu menghasilkan video, kini menjadi sorotan utama. Banyak yang berpendapat bahwa kemampuannya dapat menggantikan peran krusial sutradara dan aktor. Namun, pandangan berbeda datang dari sutradara ternama, Angga Dwimas Sasongko. Menurutnya, karya yang dihasilkan AI, secanggih apapun, belum bisa dikategorikan sebagai seni.
Angga meyakini bahwa AI telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Kunci utamanya, tegasnya, terletak pada bagaimana manusia sebagai pengguna mampu mengendalikan dan melampaui kemampuan teknologi itu sendiri. AI, dalam pandangannya, bukanlah ancaman langsung yang akan serta-merta menggantikan para pekerja kreatif.
"Saya tidak melihat AI sebagai solusi utama untuk proses penciptaan karya seni," ujar Angga Dwimas Sasongko dalam sebuah lokakarya yang diselenggarakan di Jakarta pada Jumat, 13 Maret 2026. Pernyataannya ini dilontarkan saat ia menjadi pembicara dalam acara workshop Xiaomi Pad 8 series. Ia melanjutkan, "Alasan utamanya adalah ketiadaan ‘jiwa’ dalam setiap hasil karyanya. AI cenderung menghasilkan sesuatu yang terlalu sempurna."
Menurut Angga, esensi yang membuat sebuah karya seni memiliki nilai tinggi dan mahal adalah ketidaksempurnaan yang justru membuatnya indah. Ia menggambarkan, "Sesuatu yang membuatnya menjadi mahakarya adalah ketika ia ‘beautifully messed’ atau indah dalam kekacauan, serta ‘beautifully imperfect’ atau indah dalam ketidaksempurnaannya. Hal-hal inilah yang tidak bisa ditiru oleh AI."
Meskipun demikian, Angga Dwimas Sasongko bukanlah sosok yang menolak sepenuhnya perkembangan AI. Sutradara yang dikenal dengan film ‘Filosofi Kopi’ ini justru mengakui bahwa teknologi AI sangat membantunya dalam meningkatkan produktivitas sehari-hari. Ia juga sangat menganjurkan penggunaan AI sebagai alat untuk mengartikulasikan ide-ide konseptual yang sedang dikembangkan.
Pengalaman pribadi Angga dalam memanfaatkan teknologi AI menjadi bukti nyata. Ia kerap menggunakan fitur split screen pada perangkat Xiaomi Pad 8 Pro. Dengan fitur ini, ia bisa membuka peramban internet dan aplikasi chatbot AI secara bersamaan. Kombinasi ini sangat membantunya dalam melakukan riset secara efisien.
"Ini adalah salah satu cara bagaimana saya bisa dengan sangat cepat melihat dan memproses informasi. Banyak orang memanfaatkan fitur ini untuk melihat dua hal berbeda secara simultan," jelas Angga. Ia kemudian merinci lebih lanjut, "Bagi saya, ini menjadi sarana dialektika. Ada tiga pihak yang terlibat dalam dialog ini: AI yang saya gunakan, informasi yang saya gali, dan diri saya sendiri."
AI Sebagai Katalisator Produktivitas dalam Dunia Kreatif
Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif telah memicu berbagai spekulasi, terutama di kalangan industri kreatif. Kemampuan AI untuk menghasilkan konten visual, termasuk video, telah menimbulkan kekhawatiran akan potensi penggantian peran manusia, seperti sutradara dan aktor. Namun, Angga Dwimas Sasongko, seorang sutradara yang karyanya kerap diapresiasi, menawarkan perspektif yang lebih bernuansa. Baginya, AI adalah alat yang ampuh untuk meningkatkan produktivitas, bukan pengganti jiwa artistik.
Pernyataan Angga ini disampaikan dalam sebuah sesi workshop Xiaomi Pad 8 series yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (13/3/2026). Ia menegaskan bahwa meskipun AI semakin canggih, karya yang dihasilkannya belum dapat menyentuh ranah seni yang sesungguhnya. "AI tidak akan menjadi solusi untuk creating atau creation," tegasnya. Argumen utamanya terletak pada ketiadaan "jiwa" yang membuat karya seni menjadi unik dan berharga.
Angga Dwimas Sasongko berpendapat bahwa AI cenderung menghasilkan keluaran yang "terlalu sempurna" (too perfect). Kesempurnaan yang mutlak ini justru menghilangkan elemen penting yang mendefinisikan seni. "Yang membuat sebuah karya seni menjadi sangat mahal dan punya nilai seni adalah ketika ia indah dalam ketidaksempurnaan (beautifully imperfect). Nah, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh AI," imbuhnya.
Memanfaatkan AI untuk Efisiensi Kerja
Meskipun demikian, Angga tidak serta-merta menolak keberadaan AI. Ia melihat AI sebagai teknologi pendukung yang sangat berguna untuk menunjang produktivitas. Sutradara film yang sukses dengan ‘Filosofi Kopi’ ini justru mendorong penggunaan AI untuk membantu memformulasikan dan mengartikulasikan konsep-konsep kreatif yang sedang dikembangkan.
Salah satu contoh nyata bagaimana Angga mengintegrasikan AI dalam alur kerjanya adalah dengan memanfaatkan fitur split screen pada perangkat Xiaomi Pad 8 Pro. Ia sering menggunakan kombinasi ini untuk membuka peramban web di satu sisi layar dan aplikasi chatbot AI di sisi lain. Hal ini memungkinkannya untuk melakukan riset dan memproses informasi dengan lebih cepat dan efisien.
"Ini adalah salah satu cara bagaimana saya bisa sangat cepat untuk melihat dan memproses. Terkadang, orang memanfaatkan ini untuk melihat dua hal yang berbeda," jelas Angga. Baginya, fitur ini bukan hanya tentang melihat dua konten berbeda, tetapi lebih pada proses dialektika antara dirinya, informasi yang diperoleh, dan AI itu sendiri.
"Kalau saya memakai ini untuk dialektika, jadi ada tiga pihak yang berdialektika yaitu AI saya, informasi yang saya gali, sama diri saya sendiri," pungkasnya. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana Angga menggunakan AI bukan sebagai pengganti pemikirannya, melainkan sebagai mitra dalam proses kreatif dan intelektual.
Dampak AI Generatif pada Industri Kreatif: Sebuah Analisis Mendalam
Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif telah menciptakan gelombang inovasi yang signifikan di berbagai sektor. Salah satu area yang paling terdampak adalah industri kreatif, di mana AI generatif, khususnya yang mampu menghasilkan video, mulai diperbincangkan sebagai potensi pengganti peran-peran vital seperti sutradara dan aktor. Namun, para pelaku industri, termasuk sutradara ternama Angga Dwimas Sasongko, menawarkan pandangan yang lebih hati-hati dan mendalam mengenai peran AI dalam dunia penciptaan seni.
Angga Dwimas Sasongko, yang dikenal melalui karya-karyanya yang sarat makna seperti film ‘Filosofi Kopi’, berpendapat bahwa AI, betapapun canggihnya, tidak dapat menggantikan esensi jiwa dan emosi manusia yang menjadi ciri khas sebuah karya seni. "Saya tidak merasa AI akan menjadi solusi untuk creating atau creation," ujarnya saat menjadi narasumber dalam lokakarya Xiaomi Pad 8 series di Jakarta, Jumat (13/3/2026). Argumen utamanya adalah bahwa AI cenderung menghasilkan sesuatu yang "terlalu sempurna" (too perfect), sebuah karakteristik yang justru menghilangkan keunikan dan nilai artistik.
"Yang membuat sebuah karya seni menjadi sangat mahal dan punya nilai seni adalah ketika ia indah dalam ketidaksempurnaan (beautifully imperfect). Nah, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh AI," tambah Angga. Pernyataan ini menyoroti bahwa seni seringkali lahir dari kelemahan, emosi yang kompleks, dan pengalaman manusiawi yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma semata. Kesempurnaan yang dihasilkan AI, meskipun secara teknis mengagumkan, mungkin kehilangan kedalaman emosional dan koneksi personal yang dicari penikmat seni.
AI sebagai Alat Bantu Produktivitas: Perspektif Angga Dwimas Sasongko
Meskipun demikian, Angga Dwimas Sasongko bukanlah penentang teknologi AI secara keseluruhan. Ia justru melihat AI sebagai alat yang sangat berharga untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam pekerjaan kreatif. Baginya, AI adalah partner yang dapat membantu mengartikulasikan ide-ide awal, melakukan riset, dan mempercepat proses kerja.
Sutradara ini memberikan contoh konkret bagaimana ia mengintegrasikan AI dalam rutinitas kerjanya. Ia sering memanfaatkan fitur split screen pada tablet Xiaomi Pad 8 Pro. Dengan fitur ini, ia dapat membuka dua aplikasi secara bersamaan, misalnya peramban web untuk mencari referensi dan aplikasi chatbot AI untuk berdiskusi atau menghasilkan ide. Kombinasi ini memungkinkannya untuk memproses informasi dengan cepat dan efisien, sebuah aspek krusial dalam dunia produksi yang serba cepat.
"Ini salah satu cara bagaimana saya bisa cepat banget untuk melihat, memproses. Kadang-kadang, orang memanfaatkan ini untuk melihat dua hal berbeda," jelas Angga. Ia menambahkan bahwa bagi dirinya, fungsi split screen ini bukan sekadar untuk multitasking visual, melainkan sebagai sarana "dialektika".
"Kalau saya memakai ini untuk dialektika, jadi ada tiga pihak yang berdialektika yaitu AI saya, informasi yang saya gali, sama diri saya sendiri," pungkasnya. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana Angga memandang AI bukan sebagai pengganti kecerdasan manusia, melainkan sebagai fasilitator yang membantu proses berpikir kritis dan eksplorasi ide. AI bertindak sebagai salah satu elemen dalam dialog intelektual yang pada akhirnya memperkaya pemikiran dan keputusan kreatifnya.
Menavigasi Masa Depan Industri Kreatif di Era AI
Perdebatan mengenai peran AI dalam industri kreatif terus bergulir. Di satu sisi, AI generatif menawarkan potensi luar biasa untuk otomatisasi tugas-tugas repetitif, efisiensi produksi, dan bahkan penciptaan konten baru. Namun, di sisi lain, kekhawatiran akan hilangnya sentuhan manusia, orisinalitas, dan nilai artistik yang otentik juga menjadi perhatian serius.
Pandangan Angga Dwimas Sasongko memberikan kerangka berpikir yang konstruktif. Ia menyarankan agar AI dilihat sebagai alat pendukung produktivitas, bukan sebagai pengganti kreativitas intrinsik manusia. Dengan AI, para profesional kreatif dapat lebih fokus pada aspek-aspek yang membutuhkan kecerdasan emosional, intuisi, dan pemikiran orisinal, sementara AI menangani tugas-tugas yang lebih bersifat mekanis atau analitis.
Masa depan industri kreatif kemungkinan besar akan melibatkan kolaborasi yang erat antara manusia dan AI. Kuncinya adalah bagaimana kita, sebagai pengguna, dapat memanfaatkan teknologi ini secara bijak dan etis, memastikan bahwa inovasi AI justru memperkaya, bukan mengurangi, nilai seni dan kemanusiaan dalam setiap karya yang dihasilkan. Integrasi teknologi seperti AI dalam perangkat modern, seperti yang dicontohkan oleh Xiaomi Pad 8 Pro, membuka peluang baru bagi para profesional untuk bekerja lebih cerdas dan kreatif. Namun, pada akhirnya, kecerdasan dan jiwa manusialah yang akan terus menjadi motor penggerak utama di balik setiap mahakarya.









Tinggalkan komentar