Aset Kripto Miliaran Rupiah Hilang Akibat Kesalahan Fatal Polisi Korsel

6 Maret 2026

4
Min Read

JAKARTA – Kesalahan fatal yang tak terduga terjadi di Korea Selatan, di mana aset kripto senilai miliaran rupiah yang telah disita oleh otoritas pajak justru raib. Pemicu hilangnya aset digital ini sungguh mengejutkan: unggahan foto resolusi tinggi yang secara tidak sengaja membocorkan kata sandi akses.

Insiden ini bermula ketika Dinas Pajak Nasional Korea Selatan berhasil menyita aset kripto dari 124 pengemplang pajak kelas kakap. Operasi penegakan hukum ini berhasil mengamankan aset kripto yang jika dirupiahkan mencapai lebih dari Rp 93 miliar, dengan nilai awal sekitar 8,1 miliar Won Korea.

Sebagai bagian dari transparansi dan pamer keberhasilan dalam menagih tunggakan pajak, para pejabat kemudian merilis siaran pers. Namun, dalam rilis tersebut, terselip sebuah kesalahan yang sangat fatal. Siaran pers itu menyertakan foto-foto dari dompet perangkat keras (hardware wallet) jenis Ledger yang disita.

Yang lebih mencengangkan, pada foto-foto tersebut, terlihat pula sebuah catatan tulisan tangan yang memuat frasa kunci (seed phrase) untuk mengakses dompet kripto tersebut. Frasa ini, yang terdiri dari serangkaian kata, berfungsi layaknya kunci utama untuk mengamankan dan mengakses seluruh aset digital yang tersimpan.

Kesalahan Fatal Unggahan Foto

Keberadaan frasa kunci yang terekspos dalam foto beresolusi tinggi tersebut merupakan sebuah kelalaian yang sangat serius. Frasa pemulihan mnemonik ini, yang seharusnya dijaga kerahasiaannya, justru terekspos secara gamblang kepada publik.

Setiap individu yang memiliki akses terhadap frasa kunci ini memiliki kendali penuh atas dompet kripto tersebut. Tanpa memerlukan perangkat keras aslinya, siapa pun yang mengetahui frasa tersebut dapat mengimpornya ke perangkat lunak dompet digital atau bahkan perangkat keras lain.

Selanjutnya, pelaku dapat dengan leluasa melakukan transfer aset keluar dari dompet yang bersangkutan.

Kronologi Pembobolan Aset Kripto

Menurut laporan yang dikutip dari Gizmodo, setelah foto-foto tersebut dipublikasikan, seseorang yang tak dikenal segera memanfaatkan celah keamanan ini. Pelaku terlebih dahulu menambahkan sejumlah kecil aset Ether ke salah satu alamat dompet yang terekspos.

Penambahan Ether ini bertujuan untuk menutupi biaya transaksi jaringan Ethereum yang diperlukan untuk melakukan transfer keluar. Setelah biaya jaringan terpenuhi, pelaku kemudian melakukan tiga kali transfer untuk memindahkan sekitar 4 juta token Pre-Retogeum (PRTG).

Pada saat pencurian terjadi, nilai dari 4 juta token PRTG tersebut ditaksir mencapai USD 4,8 juta, atau setara dengan Rp 81 miliar. Namun, laporan dari The Block mengindikasikan bahwa mencairkan aset dengan nilai sebesar itu dari kepemilikan kripto mungkin akan menghadapi kesulitan akibat dinamika pasar yang kompleks.

Analisis dan Dampak Kerugian

Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai pemahaman dan prosedur keamanan yang diterapkan oleh otoritas pajak Korea Selatan terkait aset digital. Seorang profesor dari Universitas Hansung, seperti dilansir dari laporan lokal, menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan kurangnya pemahaman dasar para pejabat pajak mengenai aset virtual.

Kurangnya pemahaman ini berujung pada kerugian finansial yang signifikan bagi kas negara. Miliaran Won Korea dilaporkan hilang akibat kelalaian dalam menjaga kerahasiaan aset sitaan.

Faktor lain yang memperumit investigasi adalah sifat aset kripto yang sebagian besar tidak memiliki otoritas pusat yang dapat menarik kembali aset yang telah berpindah tangan. Dengan frasa kunci yang telah tersebar luas melalui siaran pers, sangat sulit bagi penyelidik untuk menentukan siapa pelaku spesifiknya.

Pencurian ini berpotensi dilakukan oleh siapa saja yang memiliki akses internet dan kepedulian untuk mengamati detail dalam foto yang dipublikasikan. Keadaan ini menyoroti betapa krusialnya protokol keamanan yang ketat dan pemahaman mendalam dalam penanganan aset digital, terutama ketika aset tersebut disita oleh negara.

Pelajaran Berharga bagi Otoritas

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi lembaga penegak hukum dan otoritas keuangan di seluruh dunia yang semakin sering berurusan dengan aset kripto. Prosedur standar operasi (SOP) untuk penanganan aset digital harus diperbarui dan ditingkatkan secara berkala.

Pelatihan intensif bagi petugas yang terlibat dalam penyitaan dan pengelolaan aset kripto mutlak diperlukan. Kesalahan sekecil apapun, seperti mengunggah foto dengan resolusi terlalu tinggi yang tanpa sengaja membocorkan informasi sensitif, dapat berakibat fatal dan merugikan negara.

Selain itu, penggunaan teknologi yang aman dan teruji untuk menyimpan dan mengelola aset sitaan, serta penerapan kebijakan kerahasiaan yang ketat, menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.

Kasus ini juga mengingatkan kembali kepada publik mengenai pentingnya menjaga keamanan kata sandi dan frasa pemulihan untuk dompet kripto pribadi. Kesalahan dalam menjaga kerahasiaan informasi tersebut dapat berujung pada kehilangan aset yang signifikan, terlepas dari siapa pemiliknya.

Tinggalkan komentar


Related Post