Internet Stratosfer Bakal Hadir di Indonesia

5 Maret 2026

4
Min Read

Meta Description: Mitratel dan Airbus berkolaborasi mengembangkan internet dari stratosfer. Teknologi HAPS ini bidik wilayah 3T dan daerah terpencil.

Indonesia selangkah lebih maju dalam mewujudkan pemerataan konektivitas digital. Melalui kolaborasi strategis, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), anak usaha Telkom Group, bersama AALTO HAPS Limited, entitas dari raksasa dirgantara Airbus, sepakat mengembangkan teknologi internet berbasis stratosfer. Inisiatif ini membuka harapan baru untuk menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini kesulitan mendapatkan akses internet memadai.

Kesepakatan penting ini secara resmi ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di sela-sela acara Mobile World Congress 2026 di Barcelona, Spanyol, pada Senin, 2 Maret 2026. Acara ini menjadi saksi komitmen kedua perusahaan untuk membawa inovasi konektivitas ke level yang lebih tinggi, secara harfiah.

Dalam kemitraan ini, AALTO HAPS Limited akan mengambil peran sentral sebagai penyedia layanan konektivitas yang beroperasi dari stratosfer, dikenal sebagai Stratospace. Perusahaan ini juga akan bertanggung jawab penuh sebagai operator Stratocraft, yang mencakup penempatan, pengoperasian, hingga pengelolaan platform High Altitude Platform System (HAPS). Sementara itu, Mitratel, dengan pengalaman luasnya dalam infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, akan menjadi tulang punggung implementasi dengan menyediakan dan mengelola infrastruktur menara telekomunikasi yang krusial.

Solusi Jangkau Wilayah 3T dan Darurat

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Indonesia, Seno Soemadji, menegaskan bahwa teknologi HAPS memiliki potensi besar untuk menjadi jawaban atas tantangan penyediaan layanan telekomunikasi. Khususnya, teknologi ini dirancang untuk menjangkau wilayah yang selama ini terkendala oleh keterbatasan infrastruktur jaringan.

“Teknologi HAPS memiliki potensi untuk menjawab tantangan penyediaan layanan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar),” ujar Seno Soemadji. Ia menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah dan aspirasi masyarakat untuk menciptakan akses konektivitas yang merata di seluruh penjuru negeri.

Lebih lanjut, Seno Soemadji memaparkan bahwa keunggulan teknologi HAPS tidak hanya terbatas pada perluasan jangkauan. Teknologi ini juga terbukti sangat relevan dalam situasi darurat. Misalnya, ketika terjadi bencana alam yang menyebabkan gangguan parah pada infrastruktur jaringan yang ada di darat (terestrial).

“Solusi ini juga dapat dimanfaatkan dalam situasi kebencanaan ketika infrastruktur terestrial terganggu. Dengan begitu, proses pemulihan layanan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” jelasnya. Fleksibilitas dan keandalan yang ditawarkan HAPS menjadikannya aset berharga dalam mitigasi bencana dan pemulihan pasca-bencana.

Menara Komunikasi di Langit, Internet dari Ketinggian 20 Km

Apa sebenarnya teknologi High Altitude Platform System (HAPS) yang sedang dikembangkan ini? Secara sederhana, HAPS adalah sistem platform udara yang dirancang untuk beroperasi di lapisan stratosfer. Lapisan ini berada pada ketinggian yang sangat tinggi, sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi. Dari ketinggian tersebut, platform HAPS berfungsi layaknya sebuah “menara telekomunikasi raksasa di langit”.

Platform ini memiliki kemampuan untuk memancarkan sinyal konektivitas ke area permukaan bumi yang sangat luas. Salah satu teknologi unggulan yang akan dimanfaatkan adalah pesawat tanpa awak (drone) bernama Zephyr, yang merupakan milik AALTO. Pesawat Zephyr ini memiliki keistimewaan mampu terbang dalam durasi yang sangat panjang, bahkan berbulan-bulan, berkat penggerak tenaga surya.

Kemampuan Zephyr untuk terus berada di stratosfer memungkinkan penyediaan layanan konektivitas yang stabil dan berkelanjutan. Lebih menarik lagi, teknologi ini dapat menghadirkan layanan internet secara langsung ke perangkat pengguna, atau yang dikenal dengan istilah direct-to-device. Ini berarti, pengguna tidak memerlukan perangkat tambahan yang rumit untuk bisa terhubung.

CEO Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyambut baik sinergi yang terjalin. Ia optimis bahwa penggabungan infrastruktur menara telekomunikasi yang sudah ada dengan teknologi HAPS akan semakin memperkuat sistem telekomunikasi nasional secara keseluruhan.

“Sinergi antara infrastruktur menara dan teknologi HAPS diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan, memperluas cakupan, serta mendukung ketahanan sistem telekomunikasi nasional,” ujar Theodorus Ardi Hartoko. Kombinasi ini diprediksi akan menciptakan ekosistem telekomunikasi yang lebih tangguh dan inklusif.

Asia Pasifik, Pasar Strategis Teknologi Stratospace

Senada dengan Theodorus, CEO AALTO, Hughes Boulnois, memandang kawasan Asia Pasifik sebagai pasar yang sangat penting dan strategis untuk pengembangan teknologi Stratospace. Wilayah ini, dengan bentang alamnya yang luas dan keragaman geografisnya, menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi solusi konektivitas seperti HAPS.

Hughes Boulnois menekankan keunggulan teknologi Zephyr dalam menghadirkan konektivitas langsung ke perangkat pengguna. “Kemampuan Zephyr menghadirkan konektivitas langsung ke perangkat membuka peluang menjangkau wilayah dengan keterbatasan akses sekaligus meningkatkan keandalan jaringan,” jelasnya.

Inisiatif ini sejatinya merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin antara Mitratel dan Airbus sejak tahun 2023. Selama periode tersebut, kedua belah pihak telah aktif melakukan studi kelayakan yang komprehensif. Studi ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari sisi bisnis, teknis, operasional, hingga regulasi, sebelum akhirnya melangkah ke tahap implementasi yang lebih luas.

Nota Kesepahaman yang baru saja diperpanjang hingga Oktober 2027 ini akan menjadi landasan untuk mematangkan potensi integrasi teknologi HAPS dengan infrastruktur telekomunikasi yang sudah beroperasi di Indonesia. Tujuannya jelas: untuk mempercepat terwujudnya pemerataan konektivitas digital yang menjadi dambaan seluruh masyarakat Indonesia.

Perluasan akses internet ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah terpencil, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, mendukung sektor pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek pembangunan lainnya. Kolaborasi Mitratel dan Airbus ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju era digital yang lebih merata dan inklusif.

Tinggalkan komentar


Related Post