JAKARTA – Kasus dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang menimpa atlet panjat tebing Indonesia akhirnya menemui titik terang. Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, secara gamblang memaparkan kronologi penanganan kasus ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Hotel Santika Harapan Indah, Bekasi, pada Rabu (4/3/2026). Pernyataan ini disampaikan di hadapan awak media, para atlet yang menjadi korban, serta tim pelatih, menandai keseriusan FPTI dalam menghadapi isu sensitif ini.
Yenny Wahid menegaskan bahwa FPTI menyadari sepenuhnya beratnya beban yang dihadapi federasi dan seluruh insan olahraga akibat pelanggaran serius berupa pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang dialami atletnya. Ia membuka penjelasannya dengan merinci momen awal pengungkapan kasus ini.
“Pada tanggal 28 Januari lalu, delapan orang atlet mendatangi saya secara langsung untuk melaporkan dugaan kekerasan seksual dan fisik yang mereka alami,” ujar Yenny Wahid di hadapan para hadirin. Pernyataan ini menjadi pembuka yang kuat, menunjukkan bahwa federasi telah menerima aduan langsung dari para atlet yang menjadi korban.
Menindaklanjuti laporan tersebut, FPTI segera mengambil langkah strategis. Sepekan setelah pertemuan awal, FPTI memfasilitasi sebuah pertemuan lanjutan yang lebih komprehensif. Pertemuan ini dihadiri oleh para atlet yang menjadi korban, baik dari pemusatan latihan nasional (Pelatnas) maupun atlet daerah. Selain itu, tim pelatih dan tim psikolog juga turut hadir, namun terduga pelaku sengaja tidak disertakan untuk menciptakan ruang aman bagi para atlet dalam menceritakan pengalaman mereka.
“Sesuai permintaan mereka, sepekan kemudian kami kumpulkan mereka yang terdiri dari atlet Pelatnas dan daerah, beserta tim pelatih, tim psikolog, minus terduga pelaku, berkumpul di hotel untuk mendalami yang terjadi terhadap atlet,” jelas Yenny Wahid. Langkah ini menunjukkan upaya FPTI untuk mendengarkan langsung dari para korban dan memahami secara mendalam apa yang telah terjadi.
Tindakan nyata FPTI tidak berhenti pada pengumpulan keterangan. Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, FPTI secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) mengenai penonaktifan pelatih kepala yang diduga terlibat dalam kasus ini. Selain itu, sebuah Tim Pencari Fakta (TPF) dibentuk untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Pembentukan TPF ini menjadi bukti keseriusan FPTI dalam menangani dugaan pelanggaran ini.
“Hal ini guna memastikan bahwa dugaan ini disikapi secara serius, sebab FPTI tidak menoleransi penyimpangan termasuk kekerasan seksual dan fisik,” tegas Yenny Wahid. Ia menekankan bahwa martabat, keamanan mental, dan fisik seluruh individu dalam komunitas panjat tebing harus senantiasa terjaga.
Lebih lanjut, FPTI juga sigap dalam memastikan kelangsungan program latihan atlet. Segera setelah langkah investigasi diambil, FPTI membentuk tim baru untuk merumuskan komposisi tim Pelatnas yang baru. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kekosongan dalam program latihan dan memastikan bahwa para atlet tetap mendapatkan fasilitas serta dukungan yang memadai untuk terus berlatih demi prestasi.
“Semua yang ada di komunitas panjat tebing harus dijaga martabat, keamanan mental dan fisiknya. Setelah itu kami membentuk tim untuk segera merumuskan tim Pelatnas yang baru supaya tidak ada vakum agar memastikan atlet terus terfasilitasi latihan mereka,” ujar Yenny Wahid.
Upaya FPTI dalam menangani kasus ini tidak hanya bersifat internal. Yenny Wahid mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan konsultasi intensif dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Bapak Erick Thohir. Beliau memberikan sambutan yang sangat positif dan mendukung penuh langkah-langkah yang telah diambil oleh FPTI.
“Sambutannya (Menpora) positif. Beliau mendukung langkah yang dilakukan,” kata Yenny Wahid. Selain itu, FPTI juga proaktif meminta pendampingan dari berbagai organisasi yang memiliki keahlian di bidang hukum dan perlindungan perempuan. Organisasi tersebut meliputi Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan LBH APIK (Asosiasi Perempuan untuk Keadilan).
“Kami juga meminta pendampingan dari beberapa organisasi seperti Peradi dan LBH APIK (Asosiasi Perempuan untuk Keadilan) untuk memberi pendampingan kepada atlet,” tambah Yenny Wahid. Pendampingan hukum dan psikologis ini diharapkan dapat memberikan kekuatan dan dukungan yang dibutuhkan oleh para atlet yang menjadi korban.
Sebagai organisasi yang bernaung di bawah federasi internasional, FPTI juga telah menjalin komunikasi dengan Induk Federasi Internasional Panjat Tebing (IFSC). Konsultasi ini dilakukan untuk mendapatkan panduan dan memastikan bahwa penanganan kasus sesuai dengan standar internasional terkait perlindungan atlet.
“Sudah jadi kesepakatan internasional tentang safeguarding terhadap hak dan kewajiban atlet. Segala bentuk pelanggaran apalagi pelecehan seksual tidak bisa diterima di manapun,” tegas Yenny Wahid, mengutip prinsip-prinsip perlindungan atlet yang berlaku secara global.
Yenny Wahid melihat momentum penanganan kasus ini sebagai sebuah titik balik yang krusial bagi FPTI. Ia bertekad untuk menjadikan kejadian ini sebagai katalisator untuk melakukan transformasi dan pembenahan secara menyeluruh dalam organisasi. Komitmen FPTI adalah menciptakan lingkungan yang aman dan membahagiakan bagi para atlet.
“Kami berkomitmen untuk bertransformasi secara komprehensif dengan pembenahan utuh. Kami akan membuat aturan bahwa atlet aman dan terlindungi. Mereka harus bisa berlatih secara aman dan bahagia,” ujar Yenny Wahid dengan mantap.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, FPTI akan mengimplementasikan berbagai kebijakan baru yang lebih ketat. Salah satunya adalah pengaktifan sistem whistleblower yang memungkinkan siapa saja melaporkan dugaan pelanggaran secara anonim. Selain itu, protokol latihan yang lebih ketat akan diberlakukan, termasuk larangan latihan berdua dengan pelatih secara tertutup.
“Kami akan mengaktifkan sistem whistleblower dan protokol yang ketat. Tidak boleh ada latihan berdua dengan pelatih secara tertutup. Ada kode etik yang harus dipenuhi,” jelas Yenny Wahid. Transparansi dalam setiap proses juga akan ditingkatkan untuk memastikan seluruh anggota komunitas merasa aman.
Yenny Wahid berharap pengalaman pahit yang dialami oleh komunitas panjat tebing ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh komunitas olahraga di Indonesia. Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan dan pelecehan tidak boleh ditoleransi dalam bentuk apapun.
“Ada juga transparansi dan proses sehingga semua yang ada di sini merasa aman. Apa yang dialami oleh panjat tebing ini bisa jadi pelajaran untuk komunitas di Indonesia. Tindakan ini tidak boleh ditoleransi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Yenny Wahid memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keberanian para atlet untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Langkah ini dianggap sebagai indikator keseriusan dan bukti konkret atas dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang dilakukan oleh oknum pelatih kepala.
“Kami berpihak pada kesejahteraan atlet dan menunjukkan komitmen kami membangun komunitas olahraga yang sehat,” kata Yenny Wahid. FPTI bertekad untuk terus fokus pada pembinaan prestasi atlet sembari menyelesaikan persoalan yang ada.
Menjelang ajang penting di China pada awal April mendatang yang merupakan bagian dari kualifikasi menuju Asian Games, FPTI memastikan bahwa mereka akan tetap berupaya menjaga keseimbangan antara penanganan kasus dan persiapan atlet untuk kompetisi internasional.
“Kami akan kembali fokus pada pembinaan prestasi sambil menyelesaikan masalah yang ada. Sebentar lagi ada ajang penting di China di awal April untuk kejuaraan menuju Asian Games,” tegas Yenny Wahid, menutup paparannya dengan optimisme dan komitmen kuat untuk masa depan olahraga panjat tebing Indonesia.
Meta Description: Ketua FPTI Yenny Wahid ungkap kronologi kasus pelecehan atlet. Baca langkah FPTI, dukungan Menpora, dan komitmen perlindungan atlet.
Gaya Jurnalistik Segar untuk Pembaca Umum
FPTI Buka Suara: Kronologi Lengkap Dugaan Pelecehan Atlet, Yenny Wahid Tegaskan Komitmen Lawan Kekerasan
BEKASI – Dunia olahraga panjat tebing Indonesia digemparkan dengan terungkapnya dugaan kasus pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang menimpa para atletnya. Di tengah isu yang menghangat, Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Hotel Santika Harapan Indah, Bekasi, pada Rabu (4/3/2026), Yenny Wahid membeberkan seluruh kronologi penanganan kasus ini, menegaskan komitmen FPTI untuk melindungi atletnya.
Yenny Wahid mengakui bahwa isu ini menjadi pukulan berat bagi FPTI dan seluruh insan olahraga. Ia menekankan bahwa federasi tidak akan tinggal diam menghadapi pelanggaran serius seperti pelecehan dan kekerasan fisik terhadap atlet.
Semua bermula pada tanggal 28 Januari lalu. Saat itu, delapan orang atlet mendatangi Yenny Wahid secara langsung. Mereka datang dengan keberanian untuk melaporkan pengalaman pahit berupa dugaan kekerasan seksual dan fisik yang mereka alami.
“Saya jelaskan dulu kronologi, jadi pada tanggal 28 Januari, 8 orang atlet menghadap saya untuk melaporkan dugaan kekerasaan seksual dan fisik yang mereka alami,” ungkap Yenny Wahid di hadapan awak media, para atlet, dan tim pelatih.
Menanggapi laporan tersebut, FPTI segera bertindak. Sepekan setelah pertemuan awal, sebuah forum yang lebih besar diadakan. Kali ini, para atlet yang menjadi korban, baik yang tergabung dalam Pelatnas maupun atlet daerah, dikumpulkan. Mereka didampingi oleh tim pelatih dan tim psikolog. Penting untuk dicatat, terduga pelaku tidak diundang dalam pertemuan ini demi menciptakan ruang aman bagi para atlet untuk bercerita tanpa rasa takut.
“Sesuai permintaan mereka, sepekan kemudian kami kumpulkan mereka yang terdiri dari atlet Pelatnas dan daerah, beserta tim pelatih, tim psikolog, minus terduga pelaku, berkumpul di hotel untuk mendalami yang terjadi terhadap atlet,” jelas Yenny Wahid. Langkah ini menunjukkan upaya FPTI untuk mendengarkan langsung dari para korban dan memahami situasi secara mendalam.
Tidak hanya sekadar mendengarkan, FPTI juga mengambil tindakan tegas. Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, FPTI secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang menonaktifkan pelatih kepala yang diduga terlibat. Tak berhenti di situ, sebuah Tim Pencari Fakta (TPF) dibentuk untuk menginvestigasi kasus ini lebih lanjut.
“Hal ini guna memastikan bahwa dugaan ini disikapi secara serius, sebab FPTI tidak menoleransi penyimpangan termasuk kekerasan seksual dan fisik,” tegas Yenny Wahid. Ia menekankan pentingnya menjaga martabat dan keamanan fisik serta mental seluruh individu dalam komunitas panjat tebing.
Demi memastikan kelancaran program latihan atlet, FPTI juga bergerak cepat membentuk tim Pelatnas baru. Tujuannya adalah agar tidak ada kekosongan dalam jadwal latihan dan para atlet tetap mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.
“Semua yang ada di komunitas panjat tebing harus dijaga martabat, keamanan mental dan fisiknya. Setelah itu kami membentuk tim untuk segera merumuskan tim Pelatnas yang baru supaya tidak ada vakum agar memastikan atlet terus terfasilitasi latihan mereka,” ujar Yenny Wahid.
Dukungan terhadap FPTI datang dari berbagai pihak. Yenny Wahid mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkonsultasi dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia, Bapak Erick Thohir. Sang Menpora memberikan respons positif dan mendukung penuh langkah-langkah yang diambil FPTI.
“Sambutannya (Menpora) positif. Beliau mendukung langkah yang dilakukan,” kata Yenny Wahid. Selain itu, FPTI juga menggandeng beberapa organisasi profesional seperti Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan LBH APIK (Asosiasi Perempuan untuk Keadilan) untuk memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi para atlet.
“Kami juga meminta pendampingan dari beberapa organisasi seperti Peradi dan LBH APIK (Asosiasi Perempuan untuk Keadilan) untuk memberi pendampingan kepada atlet,” tambah Yenny Wahid.
Sebagai bagian dari komunitas olahraga internasional, FPTI juga telah berkomunikasi dengan Induk Federasi Internasional Panjat Tebing (IFSC). Tujuannya adalah untuk memastikan penanganan kasus sesuai dengan standar global mengenai perlindungan atlet.
“Sudah jadi kesepakatan internasional tentang safeguarding terhadap hak dan kewajiban atlet. Segala bentuk pelanggaran apalagi pelecehan seksual tidak bisa diterima di manapun,” tegas Yenny Wahid, mengutip prinsip perlindungan atlet yang berlaku di seluruh dunia.
Yenny Wahid melihat kasus ini sebagai momentum untuk melakukan perubahan besar di FPTI. Ia bertekad untuk menjadikan kejadian ini sebagai titik tolak untuk membenahi seluruh aspek organisasi, demi menciptakan lingkungan yang aman dan membahagiakan bagi para atlet.
“Kami berkomitmen untuk bertransformasi secara komprehensif dengan pembenahan utuh. Kami akan membuat aturan bahwa atlet aman dan terlindungi. Mereka harus bisa berlatih secara aman dan bahagia,” kata Yenny Wahid dengan mantap.
Untuk mencapai tujuan tersebut, FPTI akan menerapkan sistem whistleblower yang memungkinkan pelaporan dugaan pelanggaran secara rahasia. Protokol latihan juga akan diperketat, termasuk larangan latihan berdua dengan pelatih secara tertutup.
“Kami akan mengaktifkan sistem whistleblower dan protokol yang ketat. Tidak boleh ada latihan berdua dengan pelatih secara tertutup. Ada kode etik yang harus dipenuhi,” jelas Yenny Wahid. Transparansi dalam setiap proses juga akan ditingkatkan demi rasa aman seluruh anggota komunitas.
Yenny Wahid berharap pengalaman pahit ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi seluruh komunitas olahraga di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kekerasan dan pelecehan dalam bentuk apapun harus diberantas tuntas.
“Ada juga transparansi dan proses sehingga semua yang ada di sini merasa aman. Apa yang dialami oleh panjat tebing ini bisa jadi pelajaran untuk komunitas di Indonesia. Tindakan ini tidak boleh ditoleransi,” tambahnya.
Yenny Wahid juga memberikan apresiasi tertinggi kepada para atlet yang berani melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Langkah ini menunjukkan keseriusan dan keberanian mereka dalam menghadapi situasi yang sulit.
“Kami berpihak pada kesejahteraan atlet dan menunjukkan komitmen kami membangun komunitas olahraga yang sehat,” kata Yenny Wahid. FPTI akan terus fokus pada pembinaan prestasi atlet sambil menyelesaikan masalah yang ada.
Menjelang kejuaraan penting di China pada awal April mendatang, yang merupakan bagian dari kualifikasi menuju Asian Games, FPTI menegaskan bahwa mereka akan berupaya menyeimbangkan antara penanganan kasus dan persiapan atlet.
“Kami akan kembali fokus pada pembinaan prestasi sambil menyelesaikan masalah yang ada. Sebentar lagi ada ajang penting di China di awal April untuk kejuaraan menuju Asian Games,” tegas Yenny Wahid, menutup paparannya dengan harapan dan tekad kuat untuk masa depan olahraga panjat tebing Indonesia yang lebih baik dan aman.









Tinggalkan komentar