Suporter Leeds Kecam Aksi Soraki Pemain City Saat Buka Puasa

Kilas Rakyat

3 Maret 2026

5
Min Read

JAKARTA – Sebuah insiden tak menyenangkan terjadi di Elland Road saat Leeds United menjamu Manchester City. Sejumlah suporter tuan rumah kedapatan menyoraki pemain Manchester City yang tengah memanfaatkan jeda pertandingan untuk berbuka puasa Ramadan. Sikap ini menuai kritik dan membuat klub Leeds United merasa kecewa.

Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 1 Maret 2026, dini hari WIB. Laga yang digelar di kandang Leeds United tersebut dihentikan oleh wasit pada menit ke-13. Penghentian laga ini bukan karena pelanggaran, melainkan untuk memberikan kesempatan kepada tiga pemain muslim Manchester City, yaitu Rayan Cherki, Rayan Ait-Nouri, dan Omar Marmoush, untuk berbuka puasa. Di bangku cadangan, Abdukodir Khusanov juga turut merasakan momen tersebut.

Namun, saat jeda singkat itu berlangsung, sebagian pendukung Leeds United justru melancarkan sorakan yang bernada protes. Alasan mereka, penghentian laga tersebut dianggap mengganggu momentum tim kesayangan mereka yang sedang dalam posisi menekan Manchester City. Tindakan ini sontak menuai kecaman dari berbagai pihak yang menilai suporter Leeds menunjukkan sikap tidak toleran terhadap praktik keagamaan.

Respons Klub dan Pernyataan Resmi Leeds United

Menanggapi insiden yang mencoreng nama baik klub, Leeds United segera mengeluarkan pernyataan resmi. Melalui email, klub mengungkapkan penyesalan mendalam atas perilaku sebagian pendukungnya. Leeds bertekad untuk menindaklanjuti kejadian ini agar tidak terulang kembali di masa mendatang.

"Klub menyadari insiden tersebut dan sangat disayangkan bahwa beberapa pendukung memilih untuk bersorak-sorai selama jeda pertandingan untuk memungkinkan para pemain yang sedang berpuasa Ramadan untuk berbuka puasa," demikian bunyi pernyataan resmi Leeds United, seperti dilansir dari BBC.

Lebih lanjut, klub menegaskan bahwa mereka tengah melakukan investigasi mendalam untuk memahami akar permasalahan. "Klub saat ini sedang menyelidiki mengapa hal ini terjadi dan apa yang dapat dilakukan ke depannya untuk mencegah insiden serupa terjadi lagi di masa mendatang," tegas pernyataan tersebut.

Pandangan Berbeda dari Para Manajer

Usai pertandingan yang berakhir dengan kekalahan 1-0 untuk Leeds United, kedua manajer memberikan pandangan mereka mengenai insiden tersebut. Manajer Leeds United, Daniel Farke, mencoba bersikap netral. Ia menduga bahwa para suporter mungkin tidak sepenuhnya menyadari alasan sebenarnya di balik jeda pertandingan tersebut.

"Jujur saja, jika itu sangat tidak sopan, maka kita semua harus belajar dari momen tersebut. Selama pertandingan, itu bukan menurut saya, saya pikir itu lebih karena menjadi kejutan besar bahwa ada jeda. Saya tidak berpikir itu bukan untuk (puasa) Ramadan," ujar Farke.

Ia menambahkan, "Seseorang mengatakan itu tertulis di layar, tapi saya tidak yakin orang-orang memperhatikan layar. Jika memang demikian, bagi beberapa orang, itu dianggap tidak sopan, maka itu tidak dapat diterima dan kita harus belajar. Secara umum, sepakbola dan kami sebagai klub, tidak ada tempat yang lebih baik untuk hidup bersama dengan paspor atau agama yang berbeda. Menurut saya, para pendukung tidak tahu apa yang sedang terjadi."

Sementara itu, pelatih Manchester City, Pep Guardiola, menunjukkan kekecewaan yang lebih mendalam. Ia mengecam keras aksi suporter Leeds dan menyayangkan mengapa hal semacam ini bisa menjadi sebuah masalah.

"Ini dunia modern, bukan? Lihat apa yang terjadi di dunia saat ini," ujar Guardiola dengan nada prihatin. Ia menekankan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman.

"Kita harus menghormati agama dan menghormati keberagaman, itu intinya. Premier League memperbolehkan jeda satu atau dua menit bagi pemain yang berpuasa, jadi mereka melakukannya. Begitulah adanya, meski sayangnya tetap ada reaksi seperti itu," pungkasnya.

Ramadan dan Sepak Bola: Harmoni yang Terganggu

Insiden di Elland Road ini kembali mengangkat isu penting mengenai bagaimana dunia olahraga, khususnya sepak bola, dapat mengakomodasi praktik keagamaan para atletnya. Ramadan, bulan suci bagi umat Islam, menuntut umatnya untuk berpuasa dari fajar hingga senja. Hal ini tentu memengaruhi kondisi fisik para pemain yang beragama Islam, terutama saat menjalani pertandingan yang membutuhkan stamina tinggi.

Federasi sepak bola di berbagai negara, termasuk Premier League di Inggris, telah menunjukkan fleksibilitas dengan mengizinkan jeda singkat bagi pemain yang berpuasa. Jeda ini memungkinkan mereka untuk mengonsumsi cairan atau makanan ringan guna menjaga energi selama pertandingan. Kebijakan ini merupakan wujud nyata dari upaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan menghargai keberagaman di dunia olahraga.

Namun, kejadian di Leeds menunjukkan bahwa pemahaman dan penerimaan terhadap praktik keagamaan ini masih perlu ditingkatkan di kalangan suporter. Alasan yang dikemukakan oleh sebagian suporter Leeds, yaitu terganggunya momentum tim, menunjukkan adanya kesalahpahaman atau kurangnya empati terhadap situasi yang dihadapi pemain muslim.

Dalam konteks sepak bola profesional, di mana pemain berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama, sikap saling menghormati menjadi kunci utama. Penghentian pertandingan untuk berbuka puasa bukanlah sebuah bentuk kelemahan atau keuntungan yang tidak adil, melainkan sebuah penyesuaian yang diperlukan agar semua pemain dapat berkompetisi dengan kondisi terbaiknya, terlepas dari keyakinan agama mereka.

Klub-klub sepak bola memiliki peran krusial dalam mengedukasi para pendukungnya. Melalui kampanye kesadaran, pesan-pesan toleransi yang disiarkan di stadion, serta komunikasi yang jelas mengenai kebijakan yang diterapkan, klub dapat membantu menciptakan atmosfer yang lebih positif dan harmonis.

Pertandingan antara Leeds United dan Manchester City ini menjadi pengingat bahwa di tengah persaingan yang ketat di lapangan hijau, nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi agama harus tetap dijunjung tinggi. Harapannya, insiden serupa tidak terulang kembali dan dunia sepak bola dapat terus menjadi wadah bagi persatuan dan penghargaan terhadap perbedaan.

Tinggalkan komentar


Related Post