Calafiori: Cinta dan Luka di Hati Sang Bek Arsenal

Kilas Rakyat

2 Maret 2026

8
Min Read

Riccardo Calafiori kini berseragam Arsenal, namun jejaknya di AS Roma masih membekas dalam. Pemain berusia 23 tahun ini, yang tampil memukau sejak bergabung dengan klub London itu pada musim panas 2024, memiliki perjalanan karier yang penuh liku. Fleksibilitasnya di lini pertahanan membuatnya menjadi aset berharga, namun di balik performa apiknya, tersembunyi kisah pahit yang nyaris mengakhiri mimpinya sebagai pesepak bola profesional.

Perjalanan Calafiori tak lepas dari luka mendalam yang ia rasakan saat masih berada di AS Roma. Cedera lutut parah yang ia alami pada 2 Oktober 2018, hanya beberapa bulan setelah menandatangani kontrak profesional pertamanya, menjadi pukulan telak. Cedera ini datang di saat yang paling krusial, tepat ketika ia baru saja meresmikan statusnya sebagai produk akademi Roma.

Luka tersebut belum sepenuhnya pulih ketika cedera lutut kembali menghantuinya pada periode November 2019 hingga Januari 2020. Periode ini menjadi titik terendah dalam karier sepak bola profesionalnya, menguji ketahanan mental dan fisiknya secara ekstrem.

"Semuanya berjalan baik di tahun pertama. Saya bahkan sempat mencetak gol pada debut saya bersama tim yang saya cintai," kenang Calafiori, merujuk pada momen saat ia mencetak gol (meski dianulir) melawan Juventus. Namun, harapan itu seketika pupus ketika pada usia 16 tahun, ia divonis bahwa cedera serius tersebut berpotensi mengakhiri kariernya.

Meskipun mengalami masa-masa sulit, kecintaan Calafiori terhadap AS Roma tak pernah padam. Ia menegaskan, "Saya masih penggemar Roma. Dulu, saya adalah penggemar fanatik." Ia membayangkan betapa meriahnya perayaan jika saja debutnya terjadi di hadapan para penggemar di stadion, bukan di tengah ketiadaan penonton akibat pandemi COVID-19.

Pergantian kepelatihan di AS Roma turut memengaruhi nasib Calafiori. Jika Paulo Fonseca adalah pelatih yang memberinya kesempatan untuk naik ke tim utama, situasinya berbalik drastis ketika Jose Mourinho mengambil alih. Di bawah Mourinho, Calafiori sempat mendapat kepercayaan, tampil sebagai starter dalam enam pertandingan awal musim.

"Awalnya berjalan baik, saya bermain sebagai starter dan memberikan beberapa assist," ungkapnya. Namun, setelah kemenangan telak 6-1 atas Bodo/Glimt, ia merasa tersisih dan mulai menginginkan lebih banyak kesempatan bermain.

Perasaan tak terpuaskan ini berujung pada keputusannya untuk dipinjamkan ke Genoa. Namun, periode di Genoa tak berjalan mulus. "Situasinya rumit dan saya hanya tampil tiga kali, satu di antaranya sebagai starter. Performa saya lebih buruk dari sebelumnya dan saya tidak mengerti mengapa," jelas Calafiori.

Puncak dari ketidakpastian kariernya di Roma terjadi ketika klub memutuskan untuk menjualnya ke FC Basel. "Awalnya saya tidak senang," aku Calafiori. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menerima kenyataan bahwa langkah mundur ini justru bisa menjadi batu loncatan. "Saya menyadari bahwa itu akan menjadi tempat yang tepat untuk saya. Bagi seorang pria muda, sangat sempurna untuk menemukan kesinambungan di sana," tuturnya.

Di Swiss bersama Basel, Calafiori menemukan kembali performa terbaiknya. Perkembangan pesatnya kemudian menarik perhatian Bologna, klub yang ia bantu membawa meraih tiket ke Liga Champions musim 2024/2025. Namun, setelah hanya semusim di Bologna, tawaran menggiurkan dari Arsenal tak kuasa ia tolak. Kini, di Premier League, Calafiori siap membuktikan kualitasnya, sembari tetap membawa luka dan cinta dari masa lalunya di AS Roma.

Judul Baru (H1): Calafiori: Cinta dan Luka Bek Arsenal di AS Roma

Meta Description: Riccardo Calafiori ungkapkan perasaannya terhadap AS Roma, klub masa lalunya. Simak kisah cinta, benci, dan perjuangannya hingga berseragam Arsenal.

Lid Berita (Lead):

Riccardo Calafiori, kini menjadi sorotan sebagai pemain baru Arsenal, ternyata menyimpan perasaan kompleks terhadap klub masa lalunya, AS Roma. Di satu sisi, ia masih menyimpan "cinta" mendalam pada klub yang membesarkannya, namun di sisi lain, ada rasa "sebal" yang tak bisa ia sembunyikan dari Giallorossi. Perjalanan kariernya dipenuhi liku, mulai dari harapan membubung tinggi, cedera parah yang mengancam karier, hingga keputusan sulit yang membawanya meninggalkan ibu kota Italia.

Pemain berusia 23 tahun ini telah menunjukkan performa impresif sejak bergabung dengan Arsenal pada musim panas 2024, membuktikan fleksibilitasnya di berbagai posisi pertahanan. Namun, di balik performa apiknya di Premier League, terbentang kisah perjuangan yang tak mudah. Cedera lutut yang nyaris mengakhiri kariernya pada tahun 2018, saat ia baru saja menandatangani kontrak profesional dengan Roma, menjadi salah satu babak tergelap dalam hidupnya.

Kisah Calafiori ini bukan sekadar tentang transfer pemain, melainkan tentang ketahanan mental, kecintaan pada sebuah klub, dan bagaimana luka masa lalu bisa membentuk masa depan yang lebih cerah. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai dan membenci klub yang sama secara bersamaan? Jawabannya terletak pada pengalaman pahit manis yang ia lalui di Stadio Olimpico.


Calafiori: Cinta dan Luka Bek Arsenal di AS Roma

Riccardo Calafiori kini berseragam Arsenal, namun jejaknya di AS Roma masih membekas dalam. Pemain berusia 23 tahun ini, yang tampil memukau sejak bergabung dengan klub London itu pada musim panas 2024, memiliki perjalanan karier yang penuh liku. Fleksibilitasnya di lini pertahanan membuatnya menjadi aset berharga, namun di balik performa apiknya, tersembunyi kisah pahit yang nyaris mengakhiri mimpinya sebagai pesepak bola profesional.

Perjalanan Calafiori tak lepas dari luka mendalam yang ia rasakan saat masih berada di AS Roma. Cedera lutut parah yang ia alami pada 2 Oktober 2018, hanya beberapa bulan setelah menandatangani kontrak profesional pertamanya, menjadi pukulan telak. Cedera ini datang di saat yang paling krusial, tepat ketika ia baru saja meresmikan statusnya sebagai produk akademi Roma.

Luka tersebut belum sepenuhnya pulih ketika cedera lutut kembali menghantuinya pada periode November 2019 hingga Januari 2020. Periode ini menjadi titik terendah dalam karier sepak bola profesionalnya, menguji ketahanan mental dan fisiknya secara ekstrem.

"Semuanya berjalan baik di tahun pertama. Saya bahkan sempat mencetak gol pada debut saya bersama tim yang saya cintai," kenang Calafiori, merujuk pada momen saat ia mencetak gol (meski dianulir) melawan Juventus. Namun, harapan itu seketika pupus ketika pada usia 16 tahun, ia divonis bahwa cedera serius tersebut berpotensi mengakhiri kariernya.

Meskipun mengalami masa-masa sulit, kecintaan Calafiori terhadap AS Roma tak pernah padam. Ia menegaskan, "Saya masih penggemar Roma. Dulu, saya adalah penggemar fanatik." Ia membayangkan betapa meriahnya perayaan jika saja debutnya terjadi di hadapan para penggemar di stadion, bukan di tengah ketiadaan penonton akibat pandemi COVID-19.

"Satu-satunya kekurangannya adalah saat itu terjadi selama Covid, jadi tidak ada penggemar di stadion, kalau tidak saya pasti langsung pergi merayakan di depan Curva Sud," tambahnya, menggambarkan kerinduan akan atmosfer stadion yang sesungguhnya.

Pergantian kepelatihan di AS Roma turut memengaruhi nasib Calafiori. Jika Paulo Fonseca adalah pelatih yang memberinya kesempatan untuk naik ke tim utama, situasinya berbalik drastis ketika Jose Mourinho mengambil alih. Di bawah Mourinho, Calafiori sempat mendapat kepercayaan, tampil sebagai starter dalam enam pertandingan awal musim.

"Awalnya berjalan baik, saya bermain sebagai starter dan memberikan beberapa assist," ungkapnya. Namun, setelah kemenangan telak 6-1 atas Bodo/Glimt, ia merasa tersisih dan mulai menginginkan lebih banyak kesempatan bermain. Perasaan tak terpuaskan ini berujung pada keputusannya untuk mencari peruntungan di tempat lain.

"Saya menjadi starter di enam pertandingan pertama bersama Mourinho: Awalnya juga berjalan baik, saya bermain sebagai starter dan memberikan beberapa assist. Setelah kemenangan 6-1 atas Bodo/Glimt, saya tidak bermain lagi dan menginginkan lebih," jelasnya.

Keputusan untuk mencari menit bermain lebih banyak membawanya ke Genoa melalui status pinjaman. Namun, periode di Genoa tak berjalan mulus. "Situasinya rumit dan saya hanya tampil tiga kali, satu di antaranya sebagai starter. Performa saya lebih buruk dari sebelumnya dan saya tidak mengerti mengapa," tutur Calafiori dengan nada menyesal. Pengalamannya di Genoa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana lingkungan dan kepercayaan pelatih sangat memengaruhi performa seorang pemain.

Puncak dari ketidakpastian kariernya di Roma terjadi ketika klub memutuskan untuk menjualnya ke FC Basel di Swiss. "Lalu, Roma menjual saya ke Basel dan awalnya saya tidak senang," aku Calafiori. Keputusan ini tentu berat bagi seorang pemain muda yang masih terikat emosional dengan klub masa kecilnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menerima kenyataan bahwa langkah mundur ini justru bisa menjadi batu loncatan. "Tetapi ketika menerima kenyataan bahwa saya harus mundur selangkah, saya menyadari bahwa itu akan menjadi tempat yang tepat untuk saya. Bagi seorang pria muda, sangat sempurna untuk menemukan kesinambungan di sana," bebernya. Di Basel, Calafiori menemukan kembali ritme permainannya dan membangun kembali kepercayaan dirinya.

Perkembangan pesatnya di Swiss tak luput dari pantauan klub-klub lain. Bologna menjadi klub yang berhasil membawanya kembali ke Serie A Italia. Bersama Bologna, Calafiori menjelma menjadi salah satu bintang yang membawa tim tersebut meraih tiket bersejarah ke Liga Champions musim 2024/2025. Perannya sangat krusial dalam skuad yang dilatih oleh Thiago Motta.

Namun, kebersamaannya dengan Bologna hanya berlangsung semusim. Tawaran menggiurkan dari klub raksasa Premier League, Arsenal, tak kuasa ia tolak. Keputusan ini menandai babak baru dalam kariernya, sebuah lompatan besar ke liga paling kompetitif di dunia. Kini, di bawah asuhan Mikel Arteta, Calafiori siap membuktikan kualitasnya di kancah internasional, sembari tetap membawa kenangan, luka, dan cinta dari masa lalunya di AS Roma. Perjalanan kariernya adalah bukti bahwa di balik gemerlap sepak bola, terdapat cerita perjuangan, ketahanan, dan keputusan-keputusan sulit yang membentuk seorang individu.

Tinggalkan komentar


Related Post