Timnas Marinir Cisarua Timbun Longsor: 4 Jasad Ditemukan, 19 Lainnya Masih Hilang

Kilas Rakyat

6 Februari 2026

3
Min Read

Peristiwa longsor dahsyat melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam akibat hilangnya nyawa sejumlah prajurit TNI Angkatan Laut. Sebanyak 23 anggota Marinir TNI AL dilaporkan tertimbun material longsor saat sedang menjalankan kegiatan di wilayah tersebut.

Hingga kini, upaya pencarian masih terus dilakukan dengan intensitas tinggi. Berdasarkan laporan awal, mayoritas korban merupakan anggota Batalyon Infanteri 9 Marinir TNI AL yang berasal dari Lampung. Kejadian tragis ini sontak menjadi perhatian publik, terutama karena melibatkan personel militer yang sedang mengemban tugas negara.

Korban Tertimbun Longsor Saat Latihan

Musibah longsor di Cisarua ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar terkait nasib para prajurit yang tertimbun. Kabar yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa dari 23 prajurit Marinir yang menjadi korban, baru empat orang yang berhasil ditemukan.

Situasi ini menggambarkan darurat pencarian yang membutuhkan segala upaya maksimal untuk menemukan seluruh korban. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan jumlah prajurit yang tertimbun.

“Memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” ujar Laksamana Muhammad Ali kepada wartawan, mengkonfirmasi kabar duka ini. Ia menambahkan bahwa empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara pencarian terhadap personel lainnya masih berlangsung.

“Saat ini sudah ditemukan baru empat personel dalam kondisi meninggal dunia dan lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian terus,” jelas Ali. Ia kemudian merinci alasan keberadaan para prajurit di lokasi kejadian.

Menurutnya, ke-23 prajurit tersebut sedang melaksanakan latihan pratugas. Latihan ini merupakan persiapan penting sebelum mereka ditugaskan dalam pengamanan perbatasan negara.

“Karena mereka sedang melaksanakan latihan pratugas untuk dikirim ke pengamanan perbatasan RI-PNG,” katanya.

Kendala dalam Proses Evakuasi

Proses evakuasi para korban longsor di Cisarua menghadapi sejumlah hambatan signifikan. Kondisi cuaca yang buruk serta akses jalan yang sempit menjadi tantangan terbesar tim penyelamat.

Keterbatasan ini menyebabkan alat berat belum dapat menjangkau titik longsor yang menjadi lokasi utama pencarian. Hal ini tentu memperlambat upaya penggalian dan pencarian korban yang masih tertimbun.

“Alat berat memang belum bisa masuk, karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil,” ungkap Laksamana Ali. Menyadari keterbatasan tersebut, tim penyelamat kini mengandalkan teknologi modern untuk memperluas jangkauan pencarian.

Penggunaan drone, alat pendeteksi panas tubuh, dan anjing pelacak menjadi alternatif untuk menemukan sisa korban yang belum teridentifikasi. Upaya pencarian ini terus dikerahkan tanpa henti demi menemukan seluruh personel yang hilang.

Peristiwa longsor di Cisarua ini menambah panjang daftar bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, serta menjadi pengingat akan beratnya tugas dan risiko yang dihadapi para prajurit TNI dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Tinggalkan komentar


Related Post