Tragedi SD NTT: Anak Kritis, Kesehatan Mental Terlupakan?

Kilas Rakyat

6 Februari 2026

3
Min Read

Sebuah tragedi menyentuh hati terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang anak berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia. Peristiwa memilukan ini kembali membuka perdebatan serius mengenai kondisi kesehatan mental anak-anak Indonesia, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan sosial dan ekonomi.

Para ahli memberikan sorotan tajam, menganggap kejadian ini sebagai alarm mendesak bagi masyarakat dan negara untuk lebih memprioritaskan kesehatan mental anak, khususnya di daerah-daerah terpencil yang sering terabaikan.

YBR, seorang siswa kelas IV sekolah dasar dari Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan tak bernyawa di kebun milik neneknya pada Kamis, 29 Januari 2026. Peristiwa pilu ini sontak menarik perhatian berbagai pihak, termasuk akademisi dan pemerhati sosial. Mereka menilai kasus ini mencerminkan betapa rapuhnya sistem perlindungan kesehatan mental anak di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.

Profesor Dr. Bagong Suyanto, Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, menegaskan bahwa tragedi semacam ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, banyak anak di daerah terpencil luput dari pemantauan kondisi psikologis mereka. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses dan minimnya perhatian terhadap aspek kesehatan mental.

Anak-anak di daerah terpencil sering kali tidak mendapatkan pendampingan psikologis yang memadai. Keterbatasan layanan membuat mereka rentan merasa terisolasi dan kehilangan ruang aman untuk bercerita.

Prof. Bagong menekankan bahwa keluarga dan lingkungan sekitar memegang peran krusial dalam upaya mengenali tanda-tanda gangguan emosional pada anak sejak dini. Kepekaan sosial di lingkungan sekitar dinilai menjadi benteng pertahanan pertama dalam mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Kesehatan mental anak tidak boleh dianggap sepele. Dukungan dari keluarga, teman sebaya, dan masyarakat sekitar adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang sehat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, YBR diketahui tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu sederhana berukuran sekitar 2×3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya, sementara sang ayah telah merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade dan tidak pernah kembali.

YBR adalah anak bungsu dari lima bersaudara, yang tumbuh dalam kondisi keluarga penuh keterbatasan. Situasi ini, menurut Prof. Bagong, menunjukkan bagaimana tekanan kemiskinan dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis anak-anak.

Kondisi ekonomi yang berat sering memicu stres berkepanjangan, bahkan pada anak-anak. Ketika kebutuhan dasar sulit terpenuhi, dampaknya tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga merambah pada aspek mental dan emosional.

Prof. Bagong mendorong pemerintah untuk membangun sistem dukungan berbasis masyarakat melalui lembaga sosial lokal. Sistem ini dinilai penting untuk menjangkau anak-anak dan keluarga yang berada di wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan pendidikan dan kesehatan mental.

Lembaga sosial di tingkat lokal harus diperkuat agar mampu menjadi jaringan pendukung psikologis dan emosional. Anak-anak tidak boleh dibiarkan menghadapi tekanan hidup sendirian.

Tinggalkan komentar


Related Post