Peringatan akan bahaya duduk terlalu lama kembali digaungkan oleh dr. Erta P.W., SpJP, FIHA. Melalui penjelasannya di platform TikTok, ia menyoroti dampak serius kebiasaan duduk berjam-jam yang kini dianggap setara dengan merokok, terutama bagi kesehatan jantung. Artikel ini akan mengulas secara mendalam temuan dr. Erta, serta langkah-langkah preventif yang bisa diambil untuk menjaga kesehatan di tengah gaya hidup modern yang serba sedentari.
Kebiasaan duduk terlalu lama telah menjadi perhatian serius para peneliti. Dampaknya yang merugikan bagi kesehatan jantung membuat kebiasaan ini disamakan dengan merokok. dr. Erta P.W., SpJP, FIHA, melalui akun TikTok-nya, memberikan penjelasan rinci mengenai bahaya tersebut. Mari kita simak lebih lanjut.
Dampak Buruk Duduk Terlalu Lama bagi Kesehatan
Metabolisme Melambat dan Sirkulasi Darah Menurun
dr. Erta menjelaskan bahwa duduk lebih dari enam hingga delapan jam sehari dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Metabolisme tubuh melambat, sirkulasi darah menurun, dan otot-otot besar tidak dapat berkontraksi secara optimal. Kondisi ini menjadi pemicu berbagai masalah serius.
Pemicu Penggumpalan Darah dan Gangguan Metabolik
Akibat dari sirkulasi darah yang melemah menuju jantung, risiko penggumpalan darah meningkat. Selain itu, gangguan metabolik juga dapat terjadi, memperparah potensi masalah kesehatan.
Peningkatan Kolesterol Jahat
Duduk terlalu lama juga berdampak pada peningkatan kadar kolesterol jahat dan trigliserida dalam tubuh. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Dampak Serupa dengan Merokok
dr. Erta menegaskan bahwa efek duduk terlalu lama dapat disetarakan dengan merokok. Hal ini menggarisbawahi betapa seriusnya dampak kebiasaan ini terhadap kesehatan.
dr. Erta menyebutkan,
“Efek duduk terlalu lama bisa setara dengan satu bungkus rokok per hari.”
Risiko Penyakit Serius
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan lebih dari delapan jam sehari untuk duduk tanpa aktivitas ringan memiliki risiko lebih tinggi terkena:
Kasus Nyata: Manajer yang Rajin Olahraga Namun Tetap Berisiko
dr. Erta memberikan contoh kasus seorang manajer berusia 40 tahun yang rutin melakukan treadmill tiga kali seminggu. Namun, karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk, hasil pemeriksaan menunjukkan peningkatan tekanan darah, kadar kolesterol lebih tinggi, dan kondisi metabolik yang menurun. Hal ini membuktikan bahwa olahraga saja tidak cukup untuk mengatasi dampak buruk dari kebiasaan duduk yang berkepanjangan.
Siapa Saja yang Berisiko?
Masalah ini tidak hanya terjadi pada pekerja kantoran. Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menjahit atau menonton televisi, serta remaja yang terpaku pada gawai selama enam hingga sepuluh jam sehari, juga berisiko mengalami gangguan kesehatan serupa.
Langkah Preventif: Bergerak untuk Sehat
dr. Erta menekankan pentingnya melakukan pergerakan kecil secara teratur. Ia menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan:
Tips Tambahan: Meja Kerja Berdiri
dr. Erta juga merekomendasikan penggunaan meja kerja berdiri atau mengatur ketinggian laptop untuk bekerja sambil berdiri. Hal ini bertujuan untuk menjaga sirkulasi darah tetap optimal.









Tinggalkan komentar