Kesehatan mental remaja di Indonesia kembali menjadi perhatian serius. Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022 mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: satu dari tiga remaja, atau sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental. Kondisi ini menyoroti urgensi penanganan masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda.
Temuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil remaja yang mendapatkan dukungan profesional. Dalam konteks ini, penting untuk memahami akar permasalahan dan mencari solusi yang efektif. Artikel ini akan mengulas pandangan seorang psikiater mengenai isu kesehatan mental remaja, serta memberikan panduan bagi remaja, orang tua, dan guru.
Stres pada Remaja: Bagian dari Kehidupan
dr. Vivi Syarif, seorang psikiater dan anggota WHO-Voices You Can Trust, menjelaskan bahwa stres adalah pengalaman umum yang dapat dialami siapa saja, termasuk remaja. Stres memang dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman, mulai dari kesedihan hingga sulit tidur.
Reaksi Fisik dan Penanganan Dini
Stres tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga dapat memicu reaksi fisik seperti sakit kepala dan masalah pencernaan. dr. Vivi menekankan pentingnya remaja mengenali sinyal-sinyal stres sejak dini. Dengan begitu, penanganan mandiri dapat dilakukan sebelum kondisi memburuk.
Manajemen Stres Sederhana
dr. Vivi merekomendasikan beberapa cara sederhana untuk mengelola stres:
dr. Vivi juga menambahkan bahwa teknik relaksasi, seperti grounding, dapat membantu menenangkan sistem saraf ketika pikiran mulai penuh.
Hal yang Harus Dihindari
dr. Vivi memberikan penegasan tentang kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
“Alkohol dan drugs itu big no. Dan jangan banding-bandingin diri sama orang di media sosial. Stop scrolling kalau hanya bikin kalian makin cemas,”
Pesan ini menekankan pentingnya menghindari zat-zat berbahaya dan membatasi paparan media sosial yang dapat memperburuk kecemasan.
Pesan untuk Orang Tua dan Guru
Selain remaja, dr. Vivi juga menyampaikan pesan penting bagi orang tua dan guru. Ia mendorong orang dewasa untuk lebih proaktif dalam membantu remaja yang mengalami masalah kesehatan mental.
Pendekatan yang Tepat
Dr. Vivi menyarankan agar orang dewasa mengambil inisiatif untuk mendekati remaja, bukan menunggu mereka bercerita terlebih dahulu.
“Turun gunung, reach out. Dengarkan tanpa judgement, dan yang paling penting jangan freak out ketika tahu anaknya sedang kesulitan mental,”
Jangan Takut Mencari Bantuan Profesional
Dr. Vivi menegaskan bahwa mencari bantuan dari psikolog atau psikiater bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
“Kalau memang butuh bantuan profesional, jangan anti. Cari sumber daya yang bisa membantu mereka,”
Pesan ini menekankan pentingnya mencari bantuan profesional jika diperlukan, serta membuka diri terhadap dukungan yang ada.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai isu kesehatan mental remaja, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli dan memberikan dukungan yang tepat. Upaya bersama ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi generasi muda.









Tinggalkan komentar