Cucu Bung Hatta Kecam Pemerintah: Dipimpin Penjahat HAM dan Wakil Tak Konstitusional

Kilas Rakyat

21 Agustus 2025

3
Min Read

Cucu Wakil Presiden Pertama RI, Gustika Jusuf, menuai sorotan atas unggahannya di Instagram yang mengkritik tajam peringatan HUT ke-78 RI. Ia hadir dalam upacara di Istana Negara mengenakan kebaya hitam dipadu batik slobog, yang menurutnya melambangkan suasana duka. Gustikan menilai busana tersebut lebih cocok untuk acara pemakaman.

“Walau bukan Kamisan, pagi ini aku memilih kebaya hitam yang sengaja kupadukan dengan batik slobog untuk memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia,” tulis Gustika di akun Instagramnya. Pilihan busana ini bukan tanpa alasan. Bagi Gustika, batik slobog dengan makna “longgar” atau “terbuka” merupakan simbol pelepasan dan pengantaran, sering digunakan dalam prosesi pemakaman di Jawa.

Lebih lanjut, Gustika menjelaskan bahwa pilihan busananya merepresentasikan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa saat ini. Ia memandang peringatan kemerdekaan tahun ini diliputi duka dan keprihatinan mendalam. Kritik tajam dilontarkannya, menyoroti kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan.

“Kini kita dipimpin oleh seorang Presiden penculik dan penjahat HAM, dengan Wakil anak haram konstitusi,” tegas Gustika dalam unggahannya. Pernyataan ini menuai kontroversi dan menjadi pusat perhatian publik. Ia mengkritik keras pemerintahan saat ini yang dianggapnya telah melucuti hak-hak asasi rakyat dan melakukan militerisasi di ruang sipil.

Selain itu, Gustika menyoroti adanya upaya pemutihan dosa-dosa masa lalu melalui penulisan ulang sejarah. Ia mencontohkan peristiwa kekerasan aparat yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di Pati beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut semakin mempertegas keprihatinannya akan situasi terkini.

“Jujur tidak sampai hati merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-80 tanpa rasa iba, dengan peristiwa demi peristiwa yang mengkhianati nilai kemanusiaan yang datang bertubi-tubi, seperti kekerasan aparat yang baru saja mengorbankan jiwa di Pati minggu ini,” ungkap Gustika menunjukkan keprihatinannya yang mendalam.

Kritik Gustika memicu beragam reaksi. Banyak yang mendukungnya, menyatakan bahwa suaranya mewakili perasaan banyak orang yang prihatin terhadap kondisi sosial politik Indonesia. Sebagian lain mengkritik keras pernyataannya yang dianggap provokatif dan tidak berdasar.

Namun, terlepas dari pro dan kontra, pernyataan Gustika Jusuf telah memicu perdebatan publik mengenai kondisi HAM di Indonesia, peran pemerintah dalam melindungi hak-hak asasi warga negara, dan tanggung jawab pemimpin dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi dan mengakui pentingnya peran aktif warga negara dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Penggunaan batik slobog oleh Gustika menjadi simbol yang kuat, menarik perhatian dan menunjukkan bahwa pernyataan politik dapat disampaikan dengan cara yang kreatif dan bermakna. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan bukan hanya sekedar seremonial, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kondisi bangsa dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang ada. Pernyataan Gustika juga menjadi pengingat akan pentingnya perjuangan yang terus berlanjut untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan berkeadilan.

Tinggalkan komentar


Related Post