Bidan Pejuang Pasaman: Arus Deras Tak Halangi Pengobatan TBC

Kilas Rakyat

7 Agustus 2025

3
Min Read

Seorang bidan di Pasaman, Sumatera Barat, bernama Dona Lubis (46 tahun) menjadi viral setelah berjuang melewati Sungai Batang Pasaman yang deras untuk menjangkau pasien Tuberkulosis (TBC) di Kejorongan Sinuangon. Aksi heroiknya ini mendapatkan banyak pujian dan simpati dari masyarakat luas. Jembatan penghubung ke desa tersebut putus sejak Jumat, 1 Agustus, memaksanya mengambil risiko besar demi menjalankan tugas kemanusiaan.

Dona menjelaskan kesulitan yang dihadapinya. Ia harus turun ke tebing yang curam dan berjuang melawan arus sungai yang deras. Kondisi ini memaksanya untuk melewati medan yang sangat sulit dan berbahaya.

“Ada seorang pasien TBC mesti diobati di Kejorongan Sinuangon. Namun di perjalanan, ternyata jembatannya terputus. Terpaksa turun ke badan sungai melewati napal tebing yang curam dan mengarungi arus sungai,” ujar Dona menceritakan pengalamannya.

Perjalanannya yang menantang tidak hanya menghadapi derasnya arus sungai, tetapi juga hawa dingin yang membuat bajunya basah kuyup. Namun, baju basah tersebut akhirnya kering seiring dengan lamanya perjalanan. Dedikasi dan keberaniannya patut diacungi jempol.

“Baju kering di badan dalam perjalanan. Ini jadi tentangan tersendiri bagi kami tenaga kesehatan dalam menyelamatkan nyawa masyarakat,” tambahnya.

Kejorongan Sinuangon dan Kejorongan Batang Kundur, menurut Dona, adalah daerah terpencil yang penuh tantangan aksesibilitas. Kondisi geografis yang sulit seringkali menghambat pelayanan kesehatan di wilayah tersebut. Namun, kendala jarak dan medan yang berat tak pernah memadamkan semangatnya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Bahwa pelayanan kesehatan memiliki tantangan tersendiri khususnya daerah terluar di Pasaman. Namun ini merupakan dedikasi kami sebagai tenaga kesehatan yang harus sampai ke rumah pasien demi menyelamatkan nyawa masyarakat,” tegas Dona.

Setelah kisahnya tersebar luas di media sosial, Dona merasa bersyukur atas perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Ia berharap kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah dan instansi terkait agar akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil dapat ditingkatkan.

“Semoga ke depan jadi perhatian serius bersama agar pelayanan kesehatan tercapai dengan baik,” harapnya. Kisah Dona menjadi sorotan atas pentingnya infrastruktur yang memadai dan aksesibilitas pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Kondisi jembatan yang rusak bukan hanya menghambat akses bagi tenaga kesehatan, tetapi juga bagi warga lainnya yang membutuhkan akses ke fasilitas umum dan pelayanan penting lainnya. Peristiwa ini menyoroti pentingnya pemeliharaan infrastruktur dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi bencana alam yang dapat merusak infrastruktur vital.

Lebih lanjut, kejadian ini juga mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Meskipun dedikasi para tenaga kesehatan seperti Dona sangat tinggi, dukungan infrastruktur dan logistik yang memadai sangat penting agar mereka dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif dan aman.

Kejadian ini juga memicu diskusi publik mengenai pentingnya pemerataan pembangunan dan keadilan sosial. Akses ke pelayanan kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara, terlepas dari lokasi geografis mereka. Pemerintah perlu berkomitmen untuk memastikan akses yang sama bagi semua warga, termasuk di daerah-daerah terpencil.

Tinggalkan komentar


Related Post