Dua Penyimpangan Politik Bebas Aktif pada Masa Demokrasi Terpimpin

Kilas Rakyat

4 April 2024

2
Min Read
Bank Soal Dan Kunci Jawaban
Bank Soal Dan Kunci Jawaban

Masa demokrasi terpimpin adalah salah satu periode penting dalam sejarah politik Indonesia. Dalam periode ini, diadopsi politik luar negeri dengan prinsip “bebas aktif”. Meskipun prinsip ini dipandang sebagai sebuah kemajuan pada saat itu, ada beberapa penyimpangan yang justru membawa dampak negatif. Dalam artikel ini akan dibahas dua penyimpangan politik bebas aktif selama masa demokrasi terpimpin.

Penyimpangan Pertama: Penyalahgunaan Wewenang

Penyimpangan pertama yang signifikan adalah penyalahgunaan wewenang oleh penguasa. Dalam prakteknya, konsep demokrasi terpimpin yang dipromosikan oleh Presiden Soekarno sering mengarah pada otoritarianisme. Presiden berperan bukan hanya sebagai kepala negara, namun juga sebagai pemimpin tertinggi negara dalam hal pertahanan dan keamanan. Bebas aktif dalam konteks ini cenderung berakhir pada penekanan kebebasan politik dan merusak prinsip-prinsip fundamental demokrasi.

Penyimpangan Kedua: Desentralisasi Politik yang Tidak Efektif

Penyimpangan politik bebas aktif kedua pada masa demokrasi terpimpin adalah inklusi dan desentralisasi politik yang tidak efektif. Meski demokrasi terpimpin dideklarasikan sebagai suatu upaya untuk memperluas partisipasi dalam proses politik, dalam prakteknya, akses ini cenderung hanya terbatas pada elit politik. Pemerintahan pusat memegang kendali yang besar dan mengendalikan sebagian besar proses politik, yang pada akhirnya menghalangi kemajuan sejati menuju demokrasi yang lebih inklusif.

Jadi, dari kedua penyimpangan ini, dapat kita lihat bahwa meski demokrasi terpimpin dan konsep bebas aktif memiliki potensi untuk menghasilkan kemajuan politik, implementasinya dalam praktik cenderung menyimpang dari tujuan aslinya. Ini mengingatkan kita bahwa prinsip dan teori penting, tapi pengeksekusiannya juga sama pentingnya dan harus dilakukan dengan hati-hati. Praktek penyimpangan semacam ini harus menjadi pembelajaran bagi kita, demi melangkah menuju demokrasi yang lebih baik dan sejati.

Tinggalkan komentar


Related Post